Prestasi adalah sebuah perjalanan dan langkah-langkah produktif yang diakui orang lain...

Kamis, 10 Desember 2009

Sosok: TONNY KOESWOYO & KOES BERSAUDARA



Oleh Wasis Susilo/KPMI

Membicarakan Koes Bersaudara sama dengan membicarakan Tonny Koeswoyo sebagai penggagas dan motor grup musik tersebut. Pengalaman musikalnya telah terasah ketika bergabung dengan suatu grup ludruk setempat di Tuban, dan mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan GMNI dan HMI tentu saja hanya dalam urusan musik. Kemampuan musiknya dipelajari secara otodidak dan mempelajari not balok dari Nick Manolov serta gaya pemetikan gitarnya mengikuti gitaris spanyol Carcasi dan Tjio Bun Tek - guru gitar klasik di Jakarta.

Kesuksesannya mendirikan grup musik Teenager's Voice pada 1952 dan berubah nama menjadi Irama Remaja bersama Sophian Sophian memberikan kepercayaan diri Tonny Koeswoyo untuk menyodorkan Koes Brothers di tahun 1962 pada Mas Yos, pemilik Perusahaan Irama Recording. Band ini diseleksi oleh dedengkot jazz, Jack Lesmana. Talenta Koes Brothers menarik perhatian Jack, mereka pun lolos seleksi dan langsung ditawarin rekaman.

Band ini awalnya dari lima anak anak Koeswoyo yaitu Koesdjono (Jon Koeswoyo), Koestono (Tonny Koeswoyo), Koesnomo (Nomo Koeswoyo), Koesyono (Yon Koeswoyo) dan (Koesroyo) Yok Koeswoyo. Mereka dibantu tetangga keluarga Koeswoyo di Jalan Mendawai III/14 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan antara lain Iskandar, Tommy Darmo, Jan Mintaraga.

Band ini berlatih dengan peralatan musik sederhana dan amplifier buatan dalam negeri. Dalam perjalanan berikutnya, Iskandar dan Tommy Darmo memutuskan keluar sedangkan Jan Mintaraga menekuni hobi dan berprofesi sebagai pembuat komik. Dengan konsep musik ala Everly Brother's dan Kalin Twin, band ini berubah nama menjadi Koes Bersaudara.

Rekaman pertama mereka Lagu Senja, Bis Sekolah, dan Telaga Sunyi. Namun sebelum rekaman ini selesai, Djon Koeswoyo mengundurkan diri karena lebih berkonsentrasi kepada pekerjaannya di sebuah kontraktor sipil. Band ini akhirnya tinggal berempat. Posisi Jon Koeswoyo sebagai pemetik bass digantikan adiknya Yok Koeswoyo.

Rekaman mereka ternyata banyak disukai orang. Sejumlah singlenya seringkali ditayangkan di RRI dan Radio AURI. Band ini mulai dikenal tidak hanya di Jakarta. Namun, juga sudah merambah luar Jakarta.

Singel yang direkam di piringan hitam mulai banyak dicari orang. Singel Harapanku, Kuduslah Cintamu,, Aku Rindukan Kasihmu, Angin Laut, Gadis Puri, Bis sekolah, Aku Rindu, Senja, Oh Kau Tahu, Pagi Yang Indah, Aku rindu & Awan putih laris manis di pasaran. Puncaknya adalah ketika Kus Bersaudara merilis album pertama mereka. Sejumlah lagu seperti Dara Manisku, Jangan Bersedih, Harapanku, Dewi Rindu,, Bis Sekolah, Pagi Yg Indah, Si Kancil, Oh Kau Tahu, Telaga Sunyi, Angin Laut, Senja, dan Selamat Berpisah berhasil mengeser popularitas lagu-lagu mendayunya Rahmat Kartolo dan Alfian yang saat itu mendominasi pasar musik di Indonesia.

Kelebihan Koes Bersaudara pada saat itu ternyata ada pada diri Tonny Koeswoyo. Ia meramukan musik Koes Bersaudara dengan resep Simple is beautiful- Sederhana itu indah. Koes Bersaudara banyak menggunakan syair yang memiliki ritme (sajak persamaan bunyi) sehingga enak dibaca dan didengarkan. Tak hanya itu, Tonny sebagai otak Koes Bersaudara tidak meninggalkan faktor metre (banyaknya kata dalam satu baris) dan harus tepat tekanan kata pada birama, serta notasi lagu harus sesuai dengan arti kata syair tertentu.

Untuk mempertahankan originalitas lagu dan musik Koes Bersaudara, Tonny melarang adik adiknya membuat lagu. Ia juga melarang Nomo Koeswoyo (drummer) belajar memukul drum kepada Domingo Roda di Kemayoran. Kedisiplinan, ketelatenan dan keoptimisan Tonny Koeswoyo mengasah talenta adik - adiknya bermusik dan bernyanyi menghasilkan kesuksesan show Koes Bersaudara, baik di tempat hajatan pengantin, resepsi ulang tahun, sunatan, kegiatan amal hingga menjadi musik pengisi jeda antar pemutaran film di Bioskop.

Tonny Koeswoyo bertekat untuk hanya membawakan lagu lagu ciptaan mereka sendiri walaupun dalam kenyataan dikalahkan dengan tuntutan penonton yang mengharap mereka memperdengarkan lagu-lagu Beatles, Ricky Nelson, Everly Brother's dari mulut mereka. Keinginan memuaskan penonton tidak sebatas menyanyikan lagu The Beatles bahkan penampilan mereka berubah menggunakan jas, celana ketat, sepatu berhak tinggi berujung lancip dan potongan rambut berponi.

Situasi politik pertengahan 1960-an yang mempertetangkan antara Lekra dan Manifest Kebudayaan menjadi alasan Presiden Soekarno mengeluarkan intruksi untuk kembali kepada kepribadian dan kebudayaan Indonesia dan melarang musik Ngak Ngik Ngok.

Ketika Koes Bersaudara manggung di pesta salah seorang perwira Angkatan Laut, mereka didemo sekelompok orang 'anti nekolim'. Akhirnya, Juli 1965, mereka berempat dipaksa ditahan di Penjara Glodok.

Perubahan situasi politik di Indonesia saat itu membawa dampak terhadap Koes Bersaudara. Setelah merasakan pahit getirnya sel penjara, keempat bersaudara ini akhirnya keluar tahanan pada 28 September 1965. Namun, kegiatan keempat bersaudara ini masih diawasi oleh pemerintah. Meski mereka diperbolehkan keluar dan melakukan show, namun seminggu sekali Tonny dan adik-adiknya dikenakan wajib lapor ke kejaksaan.

Pengapnya ruangan sel di penjara, ternyata tak mematikan kreativitas keempat anak muda ini. Terbukti pada 1967, Koes Bersaudara mengeluarkan album Piringan Hitam mereka yang diberi judul Jadikan Aku Dombamu. Album yang direkam Dimita Molding Ltd dengan label Mesra ini berisi 12 lagu di antaranya memotret keadaan fisik dan perasaan mereka dalam penjara. Beberapa lagu seperti Balada Kamar 15 dan lagu ciptaan Yon Koeswoyo yang berjudul Rasa hatiku, menggambarkan perasaan mereka menghirup pengapnya sel.

Di album ini, Koes Bersaudara tidak hanya mengandalkan vokal Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo tetapi untuk pertama kalinya Tonny Koeswoyo ikut menyumbangkan suaranya.

Perlahan-lahan, warna musik Koes Bersaudara mulai berubah. Seiring waktu, keempatnya semakin serius dan dewasa dalam bermain musik. Album Koes Bersaudara berikutnya adalah To The So Called The Guilties. Di album ini, keempatnya mulai memasukkan unsur rock dalam aransemen musiknya. Lagu To The So Called The Guilties, dan Poor Clown dalam album ini sarat dengan harmoni yang cukup menghentak. Tak hanya itu, Tonny menulis lirik Untukmu dengan balutan musik rock. Hal ini mematahkan pakem saat itu bahwa tidak mungkin lagu rock menggunakan lirik Indonesia. Karena peralatan yang sangat sederhana kala itu, unsur rock dimasukkan melalui cara bernyanyi Tonny Koeswoyo dan pemetikan lead guitar yang amplifiernya didistorsikan dengan menaikkan volume trebelnya secara ekstrem.

Bahkan, saat penganugerahan BASF Award tahun 1992, Achmad Albar, vokalis God Bless, secara jujur menyatakan bahwa Koes Bersaudara sebenarnya merupakan pelopor grup musik Rock di Indonesia.

Seiring dengan situasi perpolitikan Indonesia yang semakin tidak menentu, tawaran show mereka menurun drastis. Sehingga, pemasukan secara finansial menyurut pula. Karena alasan itulah Nomo Koeswoyo mengajukan alternatif untuk bekerja sambilan di luar musik. Rupanya Tonny Koeswoyo bersikukuh agar adiknya disuruh memilih 'Musik atau Bisnis'. Dengan sangat berat hati Nomo Koeswoyo meninggalkan posisinya sebagai drummer band tersebut. Keluarnya Nomo jelas sangat memusingkan Tonny. Ia pun kelabakan mencari penggantinya. Beberapa drumer termasuk Fuad Hasan drumer tersohor milik God Bles mencoba mengisi kekosongan pemain drum Koes Bersaudara tersebut. Sampai akhirnya Tommy Darmo-lah yang mengajak Murry, drummer band Patas milik Kejaksaan Agung menghadap Tonny Koeswoyo.


Dan Tonny Koeswoyo tidak hanya tertarik kepada kepiawaian Murry menggebuk drum tetapi kesederhanaan penampilannya seperti anak-anak Koeswoyo lainnya. Maka, Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus. Walaupun tidak lagi berada di belakang drum, kepekaan bisnis Nomo Koeswoyo berguna sebagai Manajer Show Koes Plus. Nomo pun belakangan ternyata berhasil mengembangkan perusahaan rekaman Yukawi. Salah satu pemusik yang berhasil diorbitkan perusahaan ini adalah Oma Irama, yang kelak dikenal sebagai raja dangdut di Indonesia.

Jiwa musisi Nomo pun tak terhenti. Setelah kondisi di Indonesia relatif lebih stabil, Nomo membentuk band baru yaitu No Koes dan Nobo. Namun kerinduannya bermain bersama saudara-saudaranya, membuat tawaran Tonny untuk menghidupkan kembali Koes Bersaudara langsung disanggupinya.

Pada Januari 1977, keempat bersaudara ini mengeluarkan album Seri Perdana yang menghasilkan sejumlah hits yaitu Kembali, Cepat, Ayah, Haru, dan Bahagia. Tak hanya itu, keempat bersaudara ini juga merekam versi Pop Jawa Volume 1 yang antara lain berisi lagu Bunder Bunder.

Sayangnya usai sukses di album ini, popularitas Koes Bersaudara mulai menurun ketika mereka merilis album Volume 2. Sambutan penggemar musik Indonesia terhadap kembalinya Koes Bersaudara tidak sesuai dengan harapan Tonny Koeswoyo dan adik adiknya. Tahun 1979 Koes Bersaudara mencoba dibangkitkan lagi dengan album Boleh Cinta Boleh Benci (PL-391) yang anehnya diiringi oleh peluncuran album No Koes.

Pemunculan album dengan pembaruan konsep bermusik pada Koes Bersaudara Glodok Plaza Biru (PL-475) tidak dirasakan oleh penggemar musik di Indonesia, kecuali hanya memenuhi kepuasan kolektor album-album Koes. Demikian pula Koes Bersaudara 87 Kau Datang Lagi, disambut adem ayem oleh penggemar musik Indonesia.

Kreativitas Tonny dan ketiga saudaranya tak berhenti saat itu juga. Mereka kemudian merilis Koes Bersaudara 87 Pop Jawa yang salah satu lagunya adalah Wit Gedhang (pohon pisang). Koes Bersaudara juga sempat merilis album Pop Anak Anak yang menelurkan hits Nenek Datang.

Kedua lagu tersebut merupakan lagu terakhir Tonny Koeswoyo yang diciptakannya saat menjalani pengobatan kanker usus di rumah sakit. Pelemparan album dan pembuatan klip videonya tanpa dihadiri oleh Tonny. Sakit Tonny yang semakin parah membuat masa depan Koes Bersaudara ini semakin tak jelas. Pada 27 Maret 1987, Koestono atau Tonny Koeswoyo meninggal dunia. Wafatnya sang maestro musik Indonesia ini membuat Koes Bersaudara pun menghilang.

DISKOGRAFI

- Koes Bers Seri Perdana Kembali Jan-77 Remaco
- Koes Bers Pop Jawa Volume 1 Mar-77 Remaco
- Koes Bers Pop Keroncong Volume 1 Mei-77 Remaco
- Koes Bers Volume 2 Des-77 Remaco
- Koes Bers Boleh Cinta Boleh Benci Jul-79 Purnama Record
- Koes Bers 80 Glodok Plaza Biru Agust-80 Purnama Record
- Koes Bers 86 Mei-86 Flowes Sound
- Koes Bers 87 Kau Datang Lagi Feb-87 Flowes Sound
- Koes Bers 87 Pop Jawa Apr-87 Flowes Sound
- Koes Bers 87 Pop Anak Anak Apr-87 Flowes Sound
- Koes Bers Happy Birthday Apr-87 Flowes Sound
- Koes Bers 87 Bossas Agust-87 Flowes Sound
- Koes Bers 87 Pop Batak Agust-87 Flowes Sound
- Koes Bers 87 Instrumentalia Bossas Agust-87 Flowes Sound
- Koes Bers Milik Ilahi Agust-88 Flowes Sound
- Koes Bers Pop Batak Vol 2 Mar-00 New Metro
- Koes Bers Pop Jawa Tahun 2000 Mar-00 Black Board

(Republika 3 dan 10 Juli 2006)

Senin, 07 Desember 2009

Kabarmu Kini: NOMO KOESWOYO

Semua orang pernah berbuat salah. Dan betapapun menyebalkan dan susah untuk dilakukan, tapi meminta maaf adalah sebuah hal yang mulia untuk dilakukan. Apalagi katanya di bulan puasa seperti sekarang ini, katanya pintu maaf itu sedang dibuka lebar-lebar sama yang Diatas.

Mengucapkan kata “Maaf” sebenarnya sih bukan hal yang paling susah dilakukan di dunia ini. Gampang kok. Tinggal buka mulut, bilang “.. Maaf….”, terus mulutnya ditutup lagi, selesai. Gampang toh? Yang justru paling susah sebenarnya adalam bagaimana menunjukkan rasa penyesalan yang tulus atas kesalahan yang kita lakukan. Menyesal dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Saya mau membagikan sebuah pengalaman yang membuat saya agak-agak merinding setiap kali mengingatnya.

Beberapa minggu yang lalu saya pergi sebuah tempat di Magelang. Bukan, bukannya pergi untuk pulang kampung. Tapi saya pergi dalam rangka mengunjungi sebuah rumah di daerah Terminal Soekarno-Hatta Magelang, menemui salah satu legenda musik Indonesia yang masih hidup, Nomo Koeswoyo. Salah satu personel grup legendaris Koes Plus yang tersisa, yang ternyata tinggalnya satu kota dengan saya, dan saya baru tahu kemarin itu!

Saya pergi kesana dalam rangka sowan atau dalam bahasa Indonesianya ya (kurang lebihnya) berkunjung untuk beramah-tamah, sekalian untuk memperkenalkan diri kepada beliau tentang radio tempat saya bekerja sekarang. Karena salah satu program baru yang saya create di radio ini adalah program pemutaran lagu-lagu dari keluarga Koeswowoyo, mulai dari Koes Bersaudara, No Koes, Koes Plus hingga Chicha Koeswoyo dan Helen Koeswoyo. Jadi ya intinya adalah semacam minta ijin, mohon doa restu, kulonuwun atau apapun lah itu namanya. Sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya melakukan hal itu. Tapi tidak ada salahnya, bukan?

Segitu mendalamnya kah saya memahami dan mencintai lagu-lagu maha jadul milik mereka ini? Sama sekali enggak! Sumpah, saya sama sekali buta dengan lagu-lagu mereka, sama halnya saya teramat asing dengan lagu-lagu jadul lainnya yang jumlahnya ribuan itu. Umur segini, harusnya saya masih sibuk update lagu-lagu dari Jason Mraz, Jordin Sparks atau bahkan Lady Ga Ga (kaya nama Sarden ya!). Tapi karena tuntutan pekerjaan yang membuat saya harus mengupdate lagi pengetahuan saya tentang lagu-lagu lama (maklumlah, segmen radio saya sekarang ini adalah keluarga) makanya saya pun harus sesegera mungkin mencoba mengenal lagu-lagu dari Ade Manuhutu, Alfian, Anna Mathovani, Tetty Kadi, Lilis Suryani, The Mercy’s, Grace Simon, Ida Royani , Eddy Silitonga hingga ya Koes Plus itu tadi.

Serasa tua sebelum waktunya, memang…..

Stress, pusing dan berasa mual di awal. Hehehe. Tapi semua itu saya anggap sebagai tantangan yang justru bisa memperkaya pengalaman saya di dunia dan bidang kerja saya sekarang ini. Belajar lagi. Tambah pengetahuan lagi.

Selama perjalanan menuju Magelang, jujur perasaan saya campur aduk. Bersemangat, penasaran hingga sakit perut karena grogi. Gimana ya, mau bertemu dengan seorang legenda musik Indonesia, yang saya sendiri sebenarnya tidak mengenal karya-karya beliau dengan baik! Bahkan mendengarkan lagu-lagu Koes Plus secara nonstop selama perjalanan saja sama sekali tidak membantu. Hehehe. Apa yang nantinya harus saya bicarakan? Apa kalimat pertama yang harus saya ucapkan kepada beliau? Bagaimana kalau ternyata beliau susah diajak mengobrol? Dan masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran lainnya di kepala.


Sesampainya saya di lokasi yang dituju, saya segera turun dari mobil. Rumah Om Nomo yang letaknya persis dipinggir jalan itu terdiri dari 2 bangunan di areal tanah yang cukup luas. Satu sebuah bangunan bertingkat yang letaknya paling depan, dan satunya lagi sebuah bangunan kecil yang letaknya lebih menjorok kedalam. Disinilah Om Nomo sehari-harinya tinggal dan menerima tamu-tamunya.

Pertama kali bertemu muka dan berjabat tangandengan beliau, saya cukup terkejut melihat penampilannya yang masih sangat segar untuk ukuran orang berusia 70 tahunan. Dan yang makin membuat saya terkejut lagi adalah gaya berbicaranya yang ceplas-ceplos dan tanpa basa-basi. Dengan berkaus putih dan bercelana pendek, Om Nomo langsung membuka pembicaraan yang membuat saya langsung bengong,

“.. coba, ini tanda-tanda apa ini. Mosok bendera Merah Putih kok dikubur nang laut… Bendera Merah Putih itu harusnya dikibarkan dipuncak gunung.. iki kok malah dipendem nang njero banyu (ini kok malah dikubur di dalam air)”

HEH? Apaan sih, Om???

Ternyata si Om ini sedang ingin membahas tentang aksi para penyelam yang beberapa lalu membuat rekor dunia dengan aksi penyelaman terbanyak, dan melakukan penancapan bendera Merah Putih di dasar laut itu. Menurutnya, itu sudah sebuah penghinaan terhadap bendera negara. Karena para pejuang dulu sudah mengorbankan nyawa mereka untuk mengibarkan sang Merah Putih, lha sekarang bendera kok dibuat main-main.

Let’s not argue with it. Saya juga hanya bisa senyum menanggapi protes Om Nomo ini. Tidak bisa berkata apa-apa. Karena saya memahami sekali, beliau hidup di jaman yang jauh berbeda dengan jaman kita sekarang ini. Beliau yang ikut menjadi saksi bahkan mengalami jungkir baliknya perjuangan. Sehingga seperti layaknya para veteran-veteran perang, rasa nasionalisme itu tidak akan pernah lekang oleh semakin tuanya usia mereka.

Dan dari sinilah saya menjadi semakin mengerti, mengapa banyak sekali lagu-lagu Koes Plus yang bercerita tentang indahnya Nusantara kita, dan juga banyak lagu mereka yang menceritakan tentang kecintaan mereka terhadap Indonesia. Dan Om Nomo yang juga sering dipanggil dengan sebutan Mbah Tuban ini dengan semangatnya menceritakan tentang asal-muasal lagu-lagu yang diciptakannya itu.

Selama perbincangan, jujur perhatian saya tidak hanya terpusat pada cerita-cerita Om Nomo. Tapi beberapa kali perhatian saya sibuk terfokus pada sekeliling pemandangan rumah tempat kami mengobrol saat itu. Rumah yang ditinggali oleh Om Nomo itu- sorry to say, terlihat tua dan agak kumuh. Itu jika dibandingkan dengan bangunan lain yang ada di sebelah depannya yang bertingkat dan terlihat lebih bagus dan terawat. Kenapa beliau mau tinggal di tempat seperti ini?

Dari sinilah semua rasa penasaran saya terjawab. Om Nomo yang terlihat ‘menakutkan’ buat saya diawal-awal pertemuan, ternyata bisa berubah lembut ketika menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya. Apalagi jika bercerita tentang istri dan anak-anaknya.

Dia menceritakan tentang kisah hidupnya. Ketika masih berjaya sebagai seorang artis papan atas, apapun bisa dilakukan dan didapatkannya dengan mudah. Uang, kekuasaan, alkohol, senjata bahkan perempuan. Rock nRoll banget lah hidupnya. Tidak hanya ketika masih sendiri, setelah beliau menikah dengan (kalau tidak salah nih bernama) Francis, almarhum istrinya pun. Kebiasaan buruknya berjudi dan bermain perempuan itu tidak lantas menghilang. Dan semua itu dilakukannya dengan sepengetahuan istrinya itu. Tidak diam-diam. Dan dengan rasa bangga, Om Nomo bahkan bilang,

Istri saya itu jempol! Saya bisa lho, satu malam pulang ke rumah dan bilang kalau saya baru saja dari hotel dengan perempuan namanya X…

Edan. Itu setia atau goblok, ya? Itu yang ada dipikiran saya ketika mendengar cerita Om Nomo.

Kebiasaan Om Nomo itu baru berhenti setelah sang Istri meninggal dunia di rumah yang baru saja mereka tempati di Magelang itu. Dan akhirnya di rumah kecil itulah, Om Nomo sekarang memilih menghabiskan hidupnya. Dia tidak mau memilih rumah yang lebih bagus yang ada di halaman depan rumahnya. Dengan tetap tinggal di tempat istrinya menghembuskan nafas terakhirnya itu, dia ingin menunjukkan rasa penyesalan atas perlakuannya kepada istrinya ketika masih hidup, sekaligus ingin memberikan sisa-sisa kesetiaannya yang sempat ‘rusak’ dulu.

Dengan nada datar, Oom Nomo sempat bercerita,

Anakku Cicha pernah bilang ke saya, kenapa baru sekarang Papa sikapnya seperti ini. Kenapa tidak dulu ketika Mama masih ada…

Damn…..



It’s true. Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future…


--------------------------------------------------------------------------------

Sosok: KOES BERSAUDARA

Farther With Koes Brothers
"The Rock n Roll Band Indonesia"

"INDEPENDENCES!" That is called upon by boy which has pertained glaze, Koesdjono(72) alias John Koeswoyo, consorted the sister?brother, Nomo Koeswoyo (65), when both representing Koes Bersaudara to receive special appreciation of Life Time Achievement at event of Penghargaan Musik SCTV in Jakarta, date of 21 Mays then. Audience also laughs, sees greeting which in entertainment amusement world context now impressed " ancient" that. More than anything else, before all John have time to wrong, thinks trofi is in the form of mike received by it is really mike, so that when s(he is asked to speaks, the cup which will make of mica. John, Nomo, as brothers and sisters which they represent, namely Tony Koeswoyo ( 1936-1987), Yon Koeswoyo ( 64), and Yok Koeswoyo ( 61), of course now almost can be conceived of " history of past". In trajectory " history of past" and big name of they at that time also, actually is mirror history of Indonesia social.

The about Koes Bersaudara have been known audience pencinta music in Indonesia, including when they are gaoled [by] goverment of President Soekarno because music " ngak-ngik-ngok" his(its. But, at the opposite of chop " ke-Barat-Barat-an" which they receive when goverment " Old order", if it is traced exactly at Koes Bersaudara we find a kind " otentisity" ke-Indonesia-an, included in personal positions and their social. In some cases also, at life story of this family in the past, incised storys about moderation of life, hard work lambastes tulang-semacam illusion from a public which wish to reach dignity of life through?via job(activity. Isn't it true exactly this a kind of spirit [of] " socialism"?

Whereas presentation of their music, which at its(the epochs is formerly is coloured influence Everly Brothers, Kalin Twins, The Beatles, until The Bee Gees, isn't it true that koinsidensi history only, which able to happened at youngster in all epochs? In the case of life opinion?sight, Koes Bersaudara on the contrary echo praise about picturesque and exquisite of our fatherland, like through?via Pagi which Indah, Angin Laut, or blithe of life of social we are through?via my Dara Manis, Schoolbus, and others.

Their speech mimicry about their family histories, from their grand parent, their parent, childhood until they were all becomes adult and old fellow, seen an family area with simple values, has dignity, and has caring at social environment. Monday ( 24/5) then, Compass discuss with John, Nomo, and Yok in " complex Koes Bersaudara" in number Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. In conference during the approximant five hours, John many telling asal-usul their family. Nomo, seen to be very " gendeng" among its(the brothers and sisters, tell with their struggle for life storys. While Yokes, many considering musical journey from epoch Koes Bersaudara until Koes Plus.

From Tuban To Jakarta

Well, better be explained again, that history they can be told started from Tuban, a coastal area town in East Java. In that town, couple Koeswoyo and Atmini has nine chlids, one among others pass away when still small. Is remaining then is eight chlids, five boys and three womens. In sequence his(its, they is Koesdjono ( John), Koesdini, Koestono ( Tony), Koesnomo ( Nomo), Koesyono ( Yon), Koesroyo ( Yoke), Koestami, and Koesmiani. Now, from Koeswoyo dynasty there [are] 33 grandchilds and 28 chirps ( from grandchild circle, perhaps people still considering name of Chicha Koeswoyo and Sari Yok Koeswoyo formerly).

Tells asal-usul family Koeswoyo, John to explain ancestry up to their buyut-buyut. From there, s(he is tangent from the side of its(the grandfather is actually there are blood Portugis, while from the side of grandmother there are Dutch blood. From ancestry that is enough is length, then borns Koeswoyo, their father, which in years 1940-an is a public servant in Tuban.

" my Bapak, Koeswoyo, formerly officer in Kabupaten Tuban. Always because its(the ngganteng, him(her diliatin Bupati. Always my father am made a match with its(the keponakan, be Atmini, which then becomes our mother," said John. " After Japan epoch, Bapak becomes Asisten Wedana in Desa Kerek, always to Widang. Time Clash II, my father am raided [by] Dutch. He is ultimatum, co-operative will with NICA or directlies enter prison Kalisosok. Because its(the chlid still be little, Bapak chooses cooperating with Dutch. Bapak is surendered [by] duty in part of distribution, but s(he instead assists combatant and channels food help. But sometime later Dutch soybean cake and menaced will be shot," his(its continuation.

Said John, after sovereignty delivery of Republic of indonesia, its(the father excommunicated by its(the friends, because assumed have ever acted co-operative with Dutch. " He is isolated, until its(the body is thin because feeling victim. Sometime Later Bapak thinks, better moved to central, to Jakarta."

Family Koeswoyo also moves to Jakarta. In Jakarta, in Kementerian Dalam Negeri, place of departmental mains where Koeswoyo worked, again s(he feels excommunicated. " The department is mastered [by] people Yogya," says John. " Hence Bapak asks pension, before its(the pension mateng. Bapak always joints forces with Bank Timur. He is believe to manages onderneming ( perkebunan-Red) in Solo. I am in house with four sister?brothers. Only him(her ( refers Nomo) ventures on x'self to Surabaya, job(activity in tile factory. Which three is, Ton, Yon, Yok, I worryed of thus crossboys...," story John.

Because wishing its(the sister?brothers having " positive activity", John is having initiative buys music equipments for its(the sister?brothers. At That Time John had worked in Biro Yayasan Tehnik, before then moves to development Hotel Indonesia ( HI). " I am belikan the castanets for sister?brothers unifier. I am belikan bass betot, attendant guitar two, and drum. Buys it is same Tony in Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Why in Solo, because at that time for castanets business that is very komplet in Solo. The equipments is brought to uses train to Jakarta. Always from station is transported with truck to HI, I isn't it still working in HI...."

John tells a story, how its(the father is commisioned in Solo have time to surprise sees John and Tony to Solo. " I am made angry, arep opo rene? ( will is here?). I am spelled out members will destroy my sister?brothers. Later thus what is the they?" memory John.

Objection of Koeswoyo its(the children plays at music is typical of dread felt generally parent during the period. The father likes shows an example, where in Tuban there are a real bright violin worker played, its(the name Mr. Senen. Story John, " He the its(the death ngenes, terlunta-lunta. He is its(the death in Kampung Kawatan, in red-light district and nothing that beholds. Braze once. Time will be buried, is accompanying only gravedigger hoe worker."


LET FIND THEY SONG'S AT MASTERPIECE OF KOES PLUS

Minggu, 06 Desember 2009

Wajah Musik Indonesia: BAND-BAND TOP TANAH AIR


The Sandro Rayhansyah Article : 50 Tahun Lebih Musik Populer Indonesia, Banggakah Kita?

-Sebuah Opini, Sebuah Sudut Pandang Dari Seseorang Yang Mulai Mencintai dan Menyadari Betapa Hebatnya Musik Populer Tanah Air Tercinta-

(PS : siapkan secangkir kopi atau sebatang rokok atau segelas eh teh manis anda sambil membaca tulisan yang panjang ini)

"musik Indonesia tidak berkualitas, enakan dengerin musik luar negri!"

"Wah lo dengerin musik Indonesia juga bro? Ha Ha Ha (dengan nada sindirar)"


Tulisan ini ditulis atas dasar motivasi akan kejenuhan saya menyimak dan mendengar deru opini-opini yang saya kutip di atas. Begitu sempit dan tidak berlandaskan dasar yang penting sekaligus kuat, menurut saya pribadi paling tidak. Lewat tulisan ini, saya mencoba memaparkan perjalanan musik populer Indonesia per-dekade dengan segala keterbatasan pengetahuan saya tentang sejarah musik populer di Indonesia. Inilah opini saya dalam usaha untuk memaparkan sebaik mungkin tentang industri musik Indonesia, entah yang dari saya baca, lihat, dengar, dan rasakan.

Decade 60’s
Melihat jauh puluhan tahun kebelakang, industri musik Indonesia (baca: populer) generasi 60an sayup sayup sudah mulai terdengar bergaung. Suatu pertanda embrio yang akan segera melahirkan bayi yang kelak tak disangka tumbuh dewasa dan jauh berkembang menapaki usia yang sudah genap 5 dekade lebih. British Invasion bertanggungjawab dalam melahirkan benih musisi populer di industri musik Indonesia kala itu. Pengaruh kepopuleran Beatles dan Rolling Stones kala itu membuat orang Indonesia mulai melihat ketertarikan untuk mencoba menjadi seperti mereka, John Lennon, Mick Jagger, hingga Elvis Presley, daripada menjadi petani atau guru. Sebelumnya musik populer Indonesia didominasi oleh musik-musik daerah dengan pendekatan modern, atau musik-musik 'NASAKOM" doktrin orde lama, lagu pengiring Soekarno di istana bersama istri-istrinya. Jika saya tidak salah, oknum-oknum tersebut antara lain Jack Lesmana, Bubi Chen, Oslan Husein, Bing Slamet, dll.

Koes Plus, raja 60an

Efek British Invasion membuat band-band populer lebih muncul secara mainstream mulai membawakan musik pop dengan pengaruh yang Soekarno sebut dengan istilah 'NEKOLIM' yang juga haram hukumnya bagi rezim orde lama. Dan jika menyebut satu, terucaplah Koes Bersaudara (kelak menjadi Koes Plus) sebagai band pop yang paling terlihat dan terdengar saat itu. Pengaruh musik Beatles dan Stones kala itu benar-benar memberi pengaruh luar biasa bagi wajah musik pop dunia, termasuk di Indonesia. Koes Bersaudara yang menganut doktrin nekolim ala pendeta berponi bernama Beatles tersebut, berhasil mengisi peran yang sama seperti Beatles dalam hal pengaruh musik pop di Indonesia, bahkan rock. Koes Bersaudara mengambil pengaruh Everly Brothers, Beatles, hingga Bee Gees untuk diramu dengan pop khas ala mereka. Selain mengantarkan mereka ke penjara tahun 1965, musik pop 'ngak ngik ngok' ala Koes Bersaudara adalah fondasi dasar dari wajah musik populer Indonesia tahun 60an dan seterusnya. Tak berlebihan jika disebut Koes Plus sebagai musisi terbesar di Indonesia nomor wahid sepanjang sejarah industri musik tanah air. Di sisi lain, 'figuran-figuran' di dekade 60an diisi oleh nama-nama lain seperti Dara Puspita, Titik Puspa, hingga Benyamin S.

Decade 70s
Musik Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat di dekade 70an. Besar dalam arti kata peningkatan secara kualitas, sekaligus juga penurunan secara industri. Pengaruh rock di dekade ini perlu digarisbawahi, remaja-remaja tidak lagi mendengarkan Beatles, mereka mengagung-agungkan sosok musisi seperti Deep Purple, Led Zeppelin, hingga Genesis. Akibatnya, muncul band-band rock bukan imitasi kacangan seperti The Rollies, Giant Step, AKA, dan living legend, God Bless. Hadir juga Gipsy (band awal Chrisye dengan Nasution bersaudara), Chrisye (solo), Yockie Suryoprayogo, Harry Roesli, Gombloh, Fariz RM, bahkan Rhoma Irama dalam kurun waktu 10 tahun tersebut. Begitu banyak yang bisa diceritakan dari setiap pelaku-pelaku musik pop 70an yang saya sebut barusan, dan begitu banyak album-album esensial berkualitas bintang lima yang dirilis di kurun periode 70an ini.
.
God Bless

Beberapa diantaranya adalah album debut God Bless yang dirilis tahun 1975. Dulu, di saat penurunan industri dalam konteks melayu di sepanjang dekade 70an, dimana musisi-musisi banyak ditawarkan untuk 'menjual diri' menyanyikan lagu melayu/dangdut dengan imbalan material yang menggiurkan, God Bless malah melawan industri dengan karya-karya rock luar biasa tanpa kompromi seperti "Rock di Udara", "Setan Tertawa", dll melalui album debut mereka dalam kadar rock yang total. Atau anda bisa dengar album "Cermin" yang berasal dari band yang sama. Album ini kembali dilontarkan ke pasar pada kondisi industri makin tak karuan, disaat rilisan album pop melayu, pop keroncong,dan pop jawa sudah dalam kuantitas yang tidak sehat lagi. Hal yang sama terjadi pada rilisan Koes Plus yang ternoda dengan dominasi industri saat itu. ""Cermin" adalah perlawanan dan bukti totalitas komitmen kualitas dari God Bless kala itu terhadap kenyataan industri musik populer Indonesia. Bernuansa progresif rock tingkat tinggi, bahkan di jaman Dream Theater belum lahir sekalipun. Ditambah dengan dominasi lirik dengan konteks yang sangat jujur dan idealis pada departemen lirik God Bless. "Musisi", "Cermin", hingga "Anak Adam", mutlak menjadikan album ini salah satu album terbaik lokal yang pernah dimiliki Indonesia.

Disuatu sisi, beruntung dekade 70an memiliki Guruh Soekarno Putra, putra bungsu dari "The Man" Soekarno, yang bersosok sangat kontradiktif. Anak dari segala kemewahan dan kekuasaan, tapi memiliki bakat yang sangat jenius dalam bidang seni dan kecintaan terhadap musik etnik dan alat musik tradisional. Menggaet Gipsy, membentuk Guruh Gipsy, melahirkan album self-titled yang classic dengan performa maksimal. Inilah musik rock dalam paduan seni dan perkawinannya dengan musik etnik yang eksperimental. Mendengarkan album ini membuat saya sungguh tidak percaya album ini dirilis tahun 70an. "Guruh Gipsy" sangat melintasi waktu puluhan tahun kedepan. "Geger Gelgel" membuat saya merinding, merasakan begitu luas dan liar-nya ruang eksperimen Guruh dan Gipsy. Hanya jenius yang bisa membuat album fusion antara progresif rock yang di-hybrid-kan dengan keagungan bunyi gamelan hingga talempong asli Indonesia seperti ini, bisa terdengar sangat pop. Dan Guruh Gipsy telah membuktikannya. Oya, Chrisye di album ini menjadi pemain bas dan pengisi vokal di beberapa track. Tak kan ada Discus dan Kantata Takwa tanpa album ini, dan juga musisi-musisi lain yang mencuri elemen pelaburan musik yang tidak lazim ini.
Guruh Gipsy

Bicara soal musik pop, tiada lain yang paling pantas disebut selain album "Badai Pasti Berlalu". Disaat cinta makin mendayu dan makin melayu versi 70an, Eros Djarot mengajak Yockie Suryoprayogo, Chrisye, dkk, untuk mendobrak keseragaman lirik cinta bodoh tersebut dengan lagu dengan interpretasi lirik yang berbeda. Klasik seperti "Cintaku", "Serasa", ”Merpati Putih" hingga "Badai Pasti Berlalu" adalah jejak awal Chrisye dalam meniti karir sebagai salah satu penyanyi solo terbaik sepanjang masa di Indonesia seiring dengan Iwan Fals.

Figuran-figuran lain di dekade 70an, ah, maaf, maksud saya oknum-oknum signifikan lain di dekade ini, adalah seperti Harry Roesli yang menghasilkan rock opera legendaris bertajuk "Ken Arok", beberapa rilisan rock dari Giant Step-Rollies-AKA-Shark Move, Kolaborasi Live Yopie Item-Idris Sardi, dll. Oya, termasuk album Rhoma Irama yang menghasilkan hits "Begadang", awal dari sejarah musik goyang sejuta umat di Indonesia, suatu campuran rock dengan nuansa musik india dan timur tengah, bernama Dang-Dut. Rhoma Irama seingat saya dari dulu sampai sekarang adalah penggemar berat Deep Purple. Beliau adalah rocker yang mempunyai alter ego yang tidak lazim, membuat orang bergoyang sekaligus berdakwah. Dan Duo Kribo (Ahmad Albar dan Ucok Harahap), juga sempat merilis album dengan hits populer seperti "Panggung Sandiwara" ataupun "Neraka Jahanam".

Chrisye



Decade 80an
Memasuki dekade 80an, Indonesia diberkahi Bob Dylan dan David Bowie yang bernama Iwan Fals dan Fariz RM. Duo ini adalah penyanyi-penyanyi yang paling disebut sepanjang dekade 80an seiring dengan meroketnya popularitas Chrisye dengan album-album seperti "Resesi", "Nona", dll. Fariz RM mewakili musik pop Indonesia yang populer dalam konteks yang lebih mainstream, sedang Iwan Fals lebih menyuarakan derita ketertindasan rakyat lewat karya folk-rock beliau.

Iwan Fals

Fariz RM

Supergroup bernama Swami sempat meramaikan dekade Michael Jackson ini. Berisikan dedengkot-dedengkot senior yang menyatukan visi dan misi untuk menjalankan fungsi kritik dari musik rock. Merasa janggal dari rezim feudal Soeharto yang tidak turun-turun tahta, disuatu sisi orang kaya (borju, konglomerat) semakin banyak, tak sebanding dengan orang miskin yang makin melarat dalam kuantitas merata, menyebar, sekaligus menyeluruh di negara korup ini. Lahirlah "Bongkar" ataupun "Bento", suatu deklarasi protes dan ketidaksetujuan terhadap kondisi sosial-politik Indonesia dari supergroup yang diperkasai oleh Iwan Fals, Sawung Jawo, dan disupport oleh budayawan ’rebel’, Setiawan Jhody.

God Bless kembali hadir dengan album yang kembali meraih sukses secara kualitas dan juga jualan (akhirnya). "Semut Hitam" di tahun 86 menjadi bukti eksistensi salah satu band paling berkualitas di Indonesia. Siapa yang tidak kenal dan hafal luar kepala anthem-anthem populer seperti "Semut Hitam", "Kehidupan", hingga "Rumah Kita"?.

Gerakan rock alternatif kloter kedua mulai kembali bergema lewat banyaknya festival-festival band rock yang melahirkan generasi-generasi band rock yang kelak akan menjajah blantika musik rock Indonesia di dekade 90an. Festival Band Rock Populer Indonesia yang dicetus oleh Log Zhelebour adalah awal bagi band-band rock seperti Grass Rock, Boomerang, Roxx, Andromedha, Power Metal, hingga Slank.

Memang aktor-aktor lain di dekade ini lebih diramaikan oleh kehadiran penyanyi-penyanyi pop 80an full synth, bunyi-bunyian keyboard norak, sekaligus gaya berpakaian yang culun. Tambah lagi pop 'kreatif' seragam ala Rinto Harahap, Obbie Messakh, dan teman-teman. Oya, juga ada lady rocker Nicky Astria. Beruntung Tuhan menganugrahkan talenta-talenta seperti Fariz RM, Chrisye, Iwan Fals, oya dan Ebiet G. Ade untuk menyelematkan musik Indonesia di dekade paling 'pop' di sejarah musik Indonesia.



~Bridging the Decades~
Dua dekade selanjutnya adalah evolusi dari industri musik yang secara perlahan-pelahan tapi pasti menuju perubahan akan suatu era baru di industri musik tanah air. Ketika teknologi semakin berkembang, internet merubah segalanya tentang musik. Baik dari segi format, distribusi, bahkan sampai pada pengaruh akan kualitas. Ragam genre mulai muncul pada permukaan, TVRI tiada lagi mendominasi chart video klip anak negri, RCTI hadir, hingga MTV menyusul dipertengahan 90an memberikan pertanda baik sekaligus buruk akan masa depan musik populer Indonesia.

Decade 90s
Awal 90an, munculah terobosan dari kumpulan anak muda pengangguran yang bergaya 'tidak sopan' . Ya, siapa lagi kalau bukan Slank. Merilis album "Suit Suit He..He.." diawal 90an, Slank membuat jutaan anak muda Indonesia mendadak menjadi slenge'an dan menggemari gaya mereka yang 'apa adanya'. Slank adalah band rock dengan cita rasa Indonesia yang kental. Di saat anak muda Indonesia memanjangkan rambut mereka untuk menjadi Bon Jovi, Guns n Roses, dan Mr. Big, hingga Nirvana dengan grunge yang membuat anak muda Indonesia merobek bagian lutut di celana jeans biru mereka, Slank tidak terjebak dalam hal trend mengikuti pola musik barat 90an. Rentetan album "Kampungan", "Piss", hingga "Generasi Biru" adalah album rock n roll dengan cita rasa Indonesia. Lirik mereka adalah suara hati jutaan anak muda Indonesia. Image mereka pun dekat dengan kita semua, tidak berlebihan sama sekali. Tidak heran komunitas Slankers lahir dan tumbuh cepat menjadi komunitas musik terbesar yang pernah ada selama sejarah industri musik Indonesia. Walaupun sempat gonta-ganti personil akibat drugs, Slank sampai detik ini tetap masih menyandang status sebagai band rock paling populer nomor satu di Indonesia, bahkan melewati pendahulunya, God Bless.
Slank

Dikonteks pop mainstream, band-band pop alternative mulai muncul bagai air mengalir. Namun hanya sedikit beberapa di antara mereka yang pantas dicatat dalam sejarah. Di antara mereka adalah seperti Dewa 19, Kla Project, dan Gigi.

Dewa19

Dewa 19 adalah band pop/rock asal Surabaya, dimotori oleh Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, dan Ari Lasso yang sampai sekarang pun nama-nama mereka masih terdengar lantang lalu lintas di trend musik tanah air. Single "Kangen" membuat Dewa 19 naik kasta sebagai salah satu band yang sangat populer kala itu bersanding dengan Kla Project yang sebelumnya sudah curi start. Dewa 19 bukanlah femonena sesaat, mereka bukan one hit wonder band yang di album kedua atau ketiga akan punah dimakan zaman yang menjadi krisis banyak band pop saat itu. "Terbaik Terbaik" adalah album puncak musikalitas Dewa 19 yang dirilis di pertengahan 90. Menjadikan Dewa 19 mutlak sebagai salah satu koki penting dalam membentuk rajikan musik populer yang paling dipakai sekaligus ditiru band-band kacangan jaman sekarang. Menjadikan Ahmad Dhani adalah salah satu dari contoh figur komplit dari seorang musisi yang jenius. Setiap album Dewa 19 mempunyai hits yang sangat populer, dan curangnya juga jualan dari penjualan kaset dan cd.

Bersama Dewa 19 dan KLA Project, Gigi juga adalah penguasa musik pop dekade 90an. Tidak seperti dua band tadi yang sukses secara penjualan, kepopuleran Gigi tidak terlalu didukung dengan penjualan yang memuaskan. Gigi lebih dikenal sebagai band panggung yang hebat. Mereka memiliki Armand Maulana sebagai sosok vokalis yang berkarakter kuat hingga duo gitar maut Dewa Budhajana dan Baron yang merupakan formasi klasik mereka dikisaran tahun 1995. Hits abadi seperti "Janji” ataupun ballad ”Yang Tlah Berlalu (Nirwana)” adalah repertoir klasik Gigi di setiap panggung mereka.

Disisi yang sebaliknya, kepopuleran Metallica, Megadeth, Slayer, Sepultura, dll membuat hasrat metal anak muda Indonesia tak tertahankan. Jebolan festival rock Log Zhelebour, me-roketkan mesin tempur metal pertama yang sukses secara popularitas bernama Roxx. Mereka bagai pahlawan bagi scene musik rock lokal yang haus akan idola metal dengan sosok yang keren seperti Metallica, dan band-band metal yang saya sebut di atas. Roxx tampil dengan rambut gondrong, kaos hitam, jeans, dan musik speed metal yang liar. Roxx terlihat begitu cool, sangar, dan begitu metal. Lahirlah album debut "Roxx" yang merupakan album metal paling signifikan dalam sejarah musik cadas di scene lokal Indonesia. "Rock Bergema" adalah anthem musik rock Indonesia tak terbantahkan sepanjang masa. Mereka menginspirasikan semua band-band rock/metal Indonesia saat itu untuk mulai berani unjuk gigi ke khalayak ramai. Suckerhead, Puppen, Netral, Boomerang, Jamrud, PAS Band, Getah, Burgerkill, Koil, dan semua band rock/metal mainstream/non-mainstream pasca album "Roxx" tanpa terkecuali terinspirasi dan berhutang budi kepada Roxx.

Musik underground dalam arti kata musik yang tidak populer secara mainstream juga mulai menunjukkan taringnya. Bukan berarti dengan tidak dikontrak oleh label besar dan tampil di TVRI, memutuskan harapan mereka untuk berkreativitas di scene musik Indonesia. Scene Bandung adalah scene yang banyak mempengaruhi gerakan mandiri (DIY) yang kemudian dikenal dengan istilah independent atau indie. PAS BAND dengan "4 Through the SAP" diklaim sebagai album indie pertama yang dirilis di Indonesia. Distribusi mandiri, dan pola lagu yang independent tanpa ketergantungan pada trend musik pop, adalah nyawa dan tanda genderang dimulainya pergerakan indie di Indonesia. Sebuah scene non-mainstream yang kelak menghasilkan band-band prima kualitas namun minim apresiasi masyarakat luas secara popularitas.

Dipertengahan 90an kembali kita mendengar gaung kecil akan nama-nama seperti Rumah Sakit, Getah, Tengkorak, Puppen, hingga Pure Saturday. Scene indie ini menawarkan beragam macam genre, mulai dari power pop sampai ke metal yang thrash/death sekalipun. Pure Saturday adalah salah satu band indie yang paling kedengaran gaungnya. Band ini memiliki popularitas yang luar biasa di kota asalnya, Bandung. Merilis album self titled "Pure Saturday", nomor-nomor klasik seperti "Kosong" dan "Coklat" mengantarkan mereka sebagai legenda band indie yang terlupakan.

Dipenghujung dekade 90an, Indonesia kembali diberkati dengan band-band million copies berkualitas. Di tahun 1999, Padi dan Sheila on 7 menjajaki popularitas mendadak dengan album yang terjual 1 juta kopi lebih. Dari segi kualitas mereka tak kalah, Padi hadir dengan single "Sudahlah" yang terdengar cukup tidak common kala itu tapi menjadi hit radio populer yang menjadi magnet utama debut mereka selain "Begitu Indah" ataupun "Mahadewi". Padi terdengar seperti U2 dengan vokalis mirip Eddie Vedder (Pearl Jam). Bersama Padi, Sheila on 7 menjelma menjadi prototype dari gabungan Slank dan Dewa 19, menjadikan mereka benchmark jutaan anak muda Indonesia untuk berlomba-lomba menciptakan band dengan lagu simple, yang penting hits, populer, dan laku.

Sungguh tidak lengkap dokumentasi dekade ini kalo kita tidak membicarakan band lawak yang serius bernama Naif. Pria-pria kurang kerjaan dari IKJ ini tiba-tiba muncul ke permukaan dengan gaya mereka yang berani nekat melawan arus industri. Fashion 70an, celana cutbray, hingga kacamata jadul, dan bernyanyi tentang pamer mobil balap baru yang kemuditan ditilang polisi, adalah image 'absurd' (sebagian memang berpikiran seperti ini waktu itu) yang mereka tawarkan ke industri musik sebagai alternatif. Namun siapa sangka lambat laun gerakan alternatif Naif adalah movement yang inspirasional bagi band-band yang mengikuti jejak Naif sebagai alternatif industri yang tidak bisa dipandang sebelah mata. White Shoes & the Couples Company, The Brandals, The Upstairs, adalah sedikit dari banyak nama yang mempraktikkan langsung pergerakan 'indie' tanpa basa-basi turunan Naif. Apresiasi untuk Naif ditandai dengan album tribute to Naif yang dirilis di tahun 00an. Goodnight Electric, Tika, Brandals, the Adams, adalah rooster yang meramaikan salah satu album tribute terbaik yang pernah ada di Indonesia ini.
Naif


Decade 00s
Millenium baru ditandai dengan pergerakan indie yang makin menjamur seiring dengan popularitas mereka yang mulai menyaingi nama-nama besar di musik mainstream. Di area mainstream, begitu banyak band-band baru yang bermunculan. Dan begitu banyak pula di antara band-band baru tersebut berlalu begitu saja. Kualitas musik populer kembali terjangkit penyakit melayu akut, bahkan banyak band-band populer yang berkualitas di dekade-dekade sebelumnya mengalami penurunan kualitas musik yang memalukan dengan ikut-ikutan arus industri.

Pelaku-pelaku lama yang paling berpengaruh di dekade ini salah satunya adalah Dewa (Dewa 19 tanpa embel-embel 19). Mengganti vokalis yang mana adalah nyawa dari ciri musik suatu band, adalah perkara yang tidak gampang. Apalagi kalau vokalis band tersebut adalah penyanyi sekaliber Ari Lasso yang begitu mempunyai signature yang khas sebagai seorang vokalis. Tapi ”Bintang Lima” membuktikan bahwa Dewa bukan band kelas dua. Once menggantikan peran Ari Lasso dengan karakter yang jauh berbeda denganya, dan uniknya sama kuat. ”Bintang Lima” adalah album pop-rock dengan sentuhan lirik-lirik romantisme dengan pendekatan yang paling dicoba untuk ditiru oleh band-band dengan berlirik cinta seadanya seperti kebanyakan band-band melayu sekarang. Aransemen album ini sangat cutting edge, hingga orkestrasi, dan sound-nya sangat detail. Dirilis tepat tahun 2000, ”Bintang Lima” adalah salah album terbaik Indonesia dalam menyambut era milenium. Laris manis hampir mencapai angka penjualan 2 juta kopi.

Padi, Sheila on 7, dan juga Jamrud merilis beberapa rentetan album penting di awal tahun. Padi merilis ”Sesuatu yang Tertunda”-yang diklaim merupakan album terbaik Padi secara kualitas. Sheila on 7 makin meroket secara popularitas dengan album ”Kisah Klasik Untuk Masa Depan”, dan Jamrud merayakan ”Ningrat” yang mencetak sejarah sebagai album rock paling laku dengan angka menembus 1 juta kopi lebih.

Fenomena lain adalah band asal Bandung yang bernama Peterpan. Walau konsistensi akan kualitas band ini selalu menjadi bahan perdebatan, Peterpan tetap adalah band yang kelak akan paling diingat selama dekade ini. Suka tidak suka anda seakan tak akan bisa lepas dari teror lagu-lagu mereka yang diputar dalam intensitas yang berlebih di setiap TV, radio, dan bahkan dimana-mana. Angka fenomenal 3 juta kopi untuk ”Bintang di Surga” saya yakin bukan angka yang bisa didapat dengan mudah oleh propaganda promosi belaka, melainkan adalah suatu bukti bahwa Peterpan bagaimanapun juga, adalah band yang layak untuk diperhitungkan. Disamping mereka, rooster Musica Studios menyimpan pasukan-pasukan lain seperti Nidji yang britpop-oriented, Letto dengan filosofi-pop mereka, hingga Project Pop yang jenaka.

Di dekade ini, scene indie membuktikkan bahwa scene ini memang bukan scene marginal yang cadangan secara popularitas. Dari tahun ke tahun, pergerakan indie menyebar epidemik bagai virus yang semakin menjangkit massa yang semakin luas dan beragam. Mereka memang mempunyai fanbase yang kecil dibandingkan band-band mainstream yang populer, tapi keunikan scene indie ini adalah mereka memiliki fanbase yang loyal, ada dari waktu ke waktu, dan pertumbuhan yang mulai menunjukkan kuantitas yang signifikan dalam jumlah komunitas hingga populasi. Hal ini common terjadi mungkin sebagai dampak dari apresiasi sebagai masyarakat kepada kualitas akan musik dan lirik yang benar-benar diprioritas-utamakan oleh kebanyakan band-band indie saat itu hingga sekarang.

Adalah The Adams, The Brandals, The Upstairs, Mocca, White Shoes and the Couples Company, hingga Seringai, nama-nama yang paling terdengar dalam memulai pergerakan ‘bawah-tanah’ kloter ke-dua ini. Popularitas band-band ’kelas dua’ seperti mereka mulai bersaing dengan nama-nama besar di alur mainstream. Masing-masing band indie di atas cendrung memiliki influence musik yang bagus dan beragam, lalu berhasil meramu elemen-elemen tersebut dengan identitas Indonesia, sehingga terdengar lebih fresh dan tidak mono. The Adams dengan power-pop leburan The Beatles dengan Beach Boys, The Brandals yang membunyikan kembali garage rock lama dengan sound yang vintage lewat suara desah nafas kehidupan urban Jakarta, The Upstairs yang post-punk dengan berakarkan pada synthpop/new-wave, Mocca yang indie-pop beraroma swing, bossanova, hingga jazz, White Shoes and The Couples Company yang kembali ke 70an dengan retro-pop khas Indonesia asli, hingga metal/rock barbarian perkawinan Motorhead dan Black Sabbatth ala Seringai, dan masih sangat banyak lagi band-band indie lain yang tak kalah hebat dengan identitas mereka yang unik satu sama lain secara image, fashion, dan musikalitas. Menjadikan fenomena scene indie ini sebagai hal yang relevan dan wajar terjadii, ketika masyarakat Indonesia mulai mencapai titik jenuh yang dikarenakan oleh supply akan musik populer mainstream makin lama makin mulai semakin seragam, monoton, dan itu-itu saja.

White Shoes and The Couples Company

White Shoes and The Couples Company pada akhir 2008 kemarin berangkat tour ke US dan diundang dalam suatu konferensi musik di daerah sana. The S.I.G.I.T sempat melakukan tour gerilya di Australia, dan menjadi opening act untuk Dallas Crane (band rock populer di Australia). Mereka juga diundang oleh SXSW Festival 2009 (festival musik di Austin, US), dan melakukan tour di beberapa tempat di US. Burgerkill awal 2009 melakukan satu bulan tour full lewat Australia Invasion di Australia, dan melakukan showcase di beberapa negara di Asia Tenggara. Mocca sering diundang bermain di Singapore, Malaysia, dan bulan kemaren baru saja datang dari Korea. Goodnight Electric sempat merasakan festival electronic/dance di Eropa. The Upstairs, dan Maliq and D’essensial sempat berkunjung ke Malaysia. Ini semua adalah sedikit contoh sekaligus bukti betapa musik anak negeri begitu diperhitungkan dalam kancah internasional.
The S.I.G.I.T


Sebagian orang menilai masyarakat pendengar musik Indonesia makin tidak karuan secara kualitas selera musik dengan kehadiran band-band melayu seperti Kangen Band, D’massiv, Wali, dan kawan-kawannya. Saya tidak bilang mereka tidak bagus untuk menjadi band cinta yang mendayu-dayu, tapi sepertinya masih banyak band-band yang jauh lebih inovatif dari mereka dari hal lirik yang disampaikan hingga musikalitas yang ditawarkan. Dan merekalah yang sekiranya hendaknya dijadikan representasi akan bagaimana kualitas musik Indonesia. Sekali lagi, ini menurut opini dan selera saya.

Now
Dan sekarang adalah tahun 2009, tak terasa dekade ini berlalu dengan cepat dan kita sudah berada hampir diujung periode. Makin kesini, makin banyak bermunculan pendatang baru, dan makin tidak jelas standar yang ada. Tapi yang pasti, segenap nama-nama yang saya sebut di atas adalah alasan-alasan yang dapat kita banggakan akan industri musik Indonesia. Dan pastinya, masih banyak nama-nama hebat lain yang mungkin tidak saya bahas lebih dalam, atau memang tak tersebut sama sekali mengingat keterbatasan pengetahuan saya tentang musik Indonesia.


Short Conclusion
Inggris boleh berbangga mereka punya The Beatles, Led Zeppelin, Rolling Stones, hingga Oasis, Blur, Arctic Monkeys, dll. Amerika Serikat boleh sombong dengan Bob Dylan, Elvis Presley, hingga Nirvana, Pearl Jam, White Stripes, Strokes, Killers, dll. Tapi jangan lupa, kita, Indonesia, punya :
Koes Plus, God Bless, Iwan Fals, Chrisye, Fariz RM, Yockie Suryoprayogo, Guruh Gipsy, Harry Roesli, Jack Lesmana, Yopie Item, The Rollies, Shark Step, Giant Move, Ebiet G. Ade, Rhoma Irama, Superkid, hingga Slank, Roxx, Dewa19, Gigi, KLA Project, Naif, Edane, Padi, Sheila on 7, PAS BAND, Boomerang, Pure Saturday, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Mocca, The Brandals, The Upstairs, The S.I.G.I.T, Goodnight Electric, Koil, Seringai, Puppen, Siksakubur, Dead Squad, Tengkorak, Zeke and the Popo, Nidji, dan masih banyak lagi list yang mungkin saya lupa dan yang akan muncul kedepannya nanti, yang patut kita banggakan bersama, atau paling tidak bagi saya pribadi.

Yang pasti, kita pun dapat bangga bahwa musik dalam negeri kita menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, Indonesia.....

Berita Musik Indonesia, 6 Desember 2009 (UCOK AKA)

Coretan


Blog EntryAKA dan Peti Mati UcokDec 5, '09 7:17 PM
for everyone


Minggu, 6 Desember 2009 | 03:09 WIB

Frans Sartono

Beberapa hari sebelum Ucok Harahap meninggal di usia 66 tahun pada Kamis (3/12), rekan-rekannya dalam band AKA datang menjenguk. Mereka adalah Arthur Kaunang yang dulu pemetik bas, Syech Abidin (drums/vokal), dan Sunata Tanjung (gitar).

Ucok saat itu terkulai tak berdaya di tempat tidur. ”Kami berdoa di samping Ucok. Setelah itu tiba-tiba Ucok bangkit dan main organ. Dia menyanyi ”Badai Bulan Desember”. Semangat bermusiknya luar biasa,” kata Arthur. Asal tahu saja, nama AKA itu berasal dari Apotek Kaliasin, sebuah apotek milik ayah Ucok yang berlokasi di Jalan Kaliasin, Surabaya. Dari keuntungan usaha inilah Ucok mulai bermusik.

”Badai Bulan Desember” adalah jenis lagu manis, atau istilah Arthur, lagu mendayu-dayu dari AKA yang populer di tahun 1974. Begitu juga lagu ”Akhir Kisah Sedih” (1973). Dalam versi album lagu-lagu itu dibawakan vokal Syech Abidin. Ucok kebagian peran untuk lagu rock, khususnya untuk konsumsi panggung.

AKA memang band dengan dimensi musikal luas. Selain ”Badai Bulan Desember,” AKA juga membawakan lagu Grand Funk Raildroad seperti ”We Are American” atau ”Someone”.

Di panggung kadang Arthur, Syech Abidin, dan Sunata hanya tampil bertiga, tanpa Ucok. Mereka membawakan lagu klasik rock dari ELP seperti ”Jerusalem” meski dengan instrumen sederhana seperti organ Farfisa. Dengan bantuan seksi gesek dari Idris Sardi, AKA pernah membawakan ”Pictures at the Exhibition” karya komponis Rusia Mussorgsky versi-nya ELP.

Pada sisi lain lagi, AKA juga membawakan lagu Jimi Hendrix, James Brown, hingga Black Sabbath. Lagu jenis itu merupakan jatah Ucok untuk beraksi dengan gaya yang saat itu disebut eksentrik.

AKA, misalnya, di awal era 1970-an menggelar konser di Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Mereka membawakan lagu kondang dari Black Sabbtah ”Iron Man”. Saat itu Ucok sang vokalis yang juga pemain keyboards melepas baju, sepatu, dan celana panjang. Yang masih menempel di tubuh Ucok hanyalah celana dalam warna merah. ”Setelah (konser) itu, AKA diskors, dilarang manggung di Solo,” kenang Arthur.

Seks, sadisme, horor

Aksi panggung Ucok terbagi dalam tiga tema, yaitu seks, sadisme, dan horor. Tema seks, misalnya, dibawakan Ucok saat menyanyikan lagu ”Sex Machine” dari James Brown. ”Waktu itu dia (Ucok) betul-betul vulgar. Di atas panggung ia tampilkan adegan seperti orang bersenggama, ha-ha..,” kenang Arthur.

Untuk tema horor, AKA misalnya pernah membawa peti mati di panggung Taman Ismail Marzuki (TIM). Ucok masuk ke dalam peti mati. ”Waktu itu TIM masih angker. Setelah Ucok masuk peti, ternyata peti tidak bisa dibuka lagi. Ucok teriak-teriak dari dalam, tetapi penonton mengira itu bagian dari pertunjukan. Padahal dia enggak bisa keluar beneran he-he...,” kenang Remy Sylado penulis musik yang saat itu menjadi redaktur majalah musik Aktuil. Konon dengan bantuan seseorang berkemampuan supra natural, Ucok akhirnya bisa dikeluarkan dari perangkap peti mati.

Remy mencatat AKA dengan Ucoknya adalah fenomena zaman setelah musik rock diberi ruang oleh penguasa Orde Baru. Sebelumnya, alih-alih pangung rock yang ingar-bingar, lagu rock seperti milik Beatles saja dilarang diperdengarkan di radio. ”Tahun 1959 Bung Karno dalam pidatonya melarang musik ngak-ngik-ngok (rock) karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa,” kata Remy.

AKA tumbuh di masa perubahan itu. Eksekusinya di panggung menjadi aksi yang aneh-aneh. AKA, menurut Remy, mengawali model aksi semacam itu. Berikutnya muncul band semacam Terenchem dari Solo yang tampil dengan membawa ular. Juga Micky Jaguar yang bernyanyi dengan mengisap darah kelinci. Aksi Terenchem (singkatan dari Teruna Cemerlang) itu menurut Remy diilhami dari poster Alice Cooper dengan ular melilit tubuh di majalah Aktuil. Sedangkan ulah Micky meniru aksi vokalis Black Sabbath, Ozzy Osbourne yang menggigit kelelawar.

Ucok telah tiada ketika musik rock sudah diterima luas oleh masyarakat. Ucok dan AKA menjadi salah satu tonggak sejarah musik rock di negeri ini.


Sumber : Kompas

Berita Musik Indonesia, 3 Desember 2009 (UCOK AKA)

Sempurnakan Agama, Ucok Minta Dibacakan Surat Yasin

Kamis, 03 Desember 2009 10:03:52 WIB
Reporter : Arif Fajar Ardianto

Surabaya (beritajatim.com) - Kepergian musisi legendaris Ucok Andalas Datuk Oloan Harahap atau yang dikenal Ucok AKA Harahap meninggalkan bekas yang cukup mendalam bagi keluarga. Musisi nyentrik yang ngetop di era 70an itu bak seorang pahlawan di mata keluarganya.

Intan Mutiara, anak ke lima dari delapan anak almarhum mengatakan, figur Ucok bukanlah seperti figur ayah pada umumnya, tetapi lebih cocok jika dikatakan sebagai teman. Pasalnya gaya nyentrik khas musisi rock yang mengalir dalam darah arek Kaliasin ini membuat seluruh anggota keluarganya nyaman dan bangga.

"Gaya nyentriknya itu yang bikin saya bangga kepada papa. Beliau beda dengan orang tua lain," ujar perempuan berambut cepak tersebut saat ditemui di RS Darmo Surabaya, Rabu (03/11/2009).

Lebih lanjut, Intan mengatakan, penampilan nyentrik dan garang yang selalu ditampilkan Ucok, sangat bertolak belakang dengan sikap Ucok kepada keluarganya. Intan mengaku bahwa selama ini ayahnya selalu bertutur lembut dan penyayang.

Meski meninggalkan luka mendalam, namun Intan merasa tenang. Sebab, menjelang tutup usia, rocker itu sempat memperdalam agamanya. Bahkan menjelang kepergiannya kalimat dzikir tak lepas dari mulut Ucok.

"Belakangan, ayah selalu berdzikir, dan menyempurnakan agamanya dengan membaca dua kalimat syahadat. Ketika sakit, ayah selalu minta dibacakan surat yasin," imbuh Intan. (eda)

Minggu, 25 Oktober 2009

ALBUM-ALBUM KOES PLUS

Koes Bersaudara


1. 1962 KOES BERSAUDARA ANGIN LAUT (KUMPULAN SINGLE)

Angin Laut
(1962)
Dara Manisku, Angin Laut, Kuduslah Cintaku, Dewi Rindu, Telaga Sunyi, Selamat Berpisah, Pagi Yang Indah, Awan Putih, Selamat Berpisah, Pantai Bali, Gadis Puri, Dam Dam, Oh Kau Tahu, Harapanku, Bis Sekolah, Oh Kasihku

2. 1965 KOES BERSAUDARA TO THE SO CALLED THE GUILTIES

To the So Called the Guilties (1965)
Bintang Mars, Di Dalam Bui, Three Little Words, Poor Clown, Apa Saja, Voorman, Untukmu, Mengapa Hari Talah Gelap, Mawar Rindu, Laguku Sendiri, To the so-called the Guilties, Hari Ini
Balada Kamar 15 (1965)

3. 1965 KOES BERSAUDARA JADIKAN AKU DOMBAMU
4. 1977 KOES BERSAUDARA SERI PERDANA KEMBALI
5. 1978 KOES BERSAUDARA VOLUME 2
6. 1980 KOES BERSAUDARA 80 GLODOK PLAZA BIRU
7. 1979 KOES BERSAUDARA BOLEH CINTA BOLEH BENCI
8. 1986 KOES BERSAUDARA 86
9. 1987 KOES BERSAUDARA 87 KAU DATANG LAGI
10. 1987 KOES BERSAUDARA 87 BOSSAS
11. 1987 KOES BERSAUDARA 87 POP ANAK ANAK
12. 1977 KOES BERSAUDARA POP JAWA VOLUME 1
13. 1987 KOES BERSAUDARA 87 POP JAWA
14. 1977 KOES BERSAUDARA POP KERONCONG VOLUME 1
15. 1977 KOES BERSAUDARA POP MELAYU



Keterangan: KS-Koeswojo Senior, TO-TONNY, JN-YON, JK-YOK, MR-MURRY

Album KOES PLUS
1. 1969 KOES PLUS VOLUME 1

Volume 1 (1969)
AWAN HITAM-TO,DERITA-TO,KELELAWAR-TO
TIBA TIBA AKU MENANGIS-TO,BERGEMBIRA-TO,
CINTAMU TELAH BERLALU-TO,MANIS DAN SAYANG-TO
DHEG DHEG PLAS-TO,HILANG TAK BERKESAN-TO
KEMBALI KE JAKARTA-TO,BIAR BERLALU-JN
LUSA MUNGKIN KAU DATANG-TO

2. 1970 KOES PLUS VOLUME 2


Volume 2 (1970)
LAGU DALAM IMPIAN-TO,KISAH SEDIH DI HARI MINGGU-TO
KAU TINGGALKAN AKU-JN,PENCURI HATI-TO JK MR
HIDUP YANG SEPI-JN,JANGAN SELALU MARAH-TO
RAHASIA HATIKU-TO,ANDAIKAN KAU DATANG-TO
BILAKAN KAU PULANG-JN,HANYA PUSARAMU-TO,MR
MENGAPA KAU SEDIH-JK,JANJIMU-MR

3. 1970 KOES PLUS VOLUME 3


Volume 3 (1970)
HUJAN ANGIN-JN,KASIH SAYANG-TO,SWEET MEMORIES-TO
SELAMAT TINGGAL-TO,SELALU GEMBIRA-JN,HARI YANG SUCI-JN
LAMUNAN-TO,BUNGA DAN REMAJA-TO,ISI HATIKU-TO,KASIH YANG SUCI-JK
MALAM YANG SEPI-JN,DOA SUCIKU-MR

4. 1970 KOES PLUS VOLUME 4 BUNGA DI TEPI JALAN


Volume 4 (1970)
MALAM INI -TO,JERITAN HATI- JN
KR. PERTEMUAN- TO,WHY DO YOU LOVE ME- JK
BUNGA DI TEPI JALAN- JN,BERTEMU DAN PERPISAH- MR
JANGAN SEDIH -JK,JANGAN BERULANG LAGI- TO
KEMBALILAH -JK,KASIHKU YANG HILANG - TO
TERMENUNG LESU- JN,HATI ORANG SIAPA TAHU-TO

5. 1971 KOES PLUS VOLUME 5


Volume 5 (1971)
NUSANTARA-TO,PENYESALAN- JN
WE LOVE EACH OTHER- JK,PERASAAN CINTAKU- JN
MUSIK DI SEKELILINGKU- MR,RELAX- TO
HANYA TEMANKU- TO,SONYA -JK
MENANTI- TO,HARI YANG INDAH- TO
HARI INI DAN NANTI- MR,NYANYIAN MALAM -TO

6.1972 KOES PLUS VOLUME 6


Volume 6 (1972)
KERINDUAN- TO,IBU DAN LAGUNYA- TO
TEARS ARE FALLING- YK,OH KASIHKU- KS
WAKTU CEPAT BERLALU- TO,FRIENDLY LOVE- TO
HIDUP TANPA CINTA- MR,TIADA JALAN LAGI- JN
WE SAY HELLO- TO,BUKAN RAHASIA- MR,TO
UNHAPPY SAD- MR,TO, HOW MUCH I LOVE YOU- JK

7. 1972 KOES PLUS VOLUME 7

Volume 7 (1972)
MARI MARI- KS, MALAM YANG INDAH- TO
LIHAT JENDELAKU -JK, PENGAKUAN- TO
RASA SEDIH TIADA ARTI- JK, TRADISI- TO
CINTA ABADI- JK, MENGAPA- JN
SEMINGGU YANG LALU- MR, PELANGI- MR TO
NAMA YANG MANIS-TO, HANYA UNTUKMU-TO

8.1973 KOES PLUS VOLUME 8

Volume 8 (1972)
NUSANTARA II- TO, PERCAYA PADAKU- JN
KOLAM SUSU- JK, MANA HATIMU- JK
BUAT APA SUSAH- MR, DIANA- TO
TIADA LAIN DI HATIKU- TO
KEMBALILAH KEPADAKU(JANGAN BIMBANG RAGU)- KS
WAKTU- JK, DESEMBER- MR
SEMANIS RAYUANMU- MR, TAK MUNGKIN KEMBALI- JN

9. 1973 KOES PLUS VOLUME 9

Volume 9 (1973)
MUDA MUDI- KS, LAYANG LAYANG- KS
JANGAN CEMBURU- JK, TERLAMBAT- JN
O LA LA- TO, MAIN BELAKANG- TO
HATIKU BEKU- JN, NUSANTARA III- JK
KAU BINA HIDUP BARU- MR, DESAKU- JK
AKU SENDIRI- JK, PERASAAN- TO

10. 1974 KOES PLUS VOLUME 10

Volume 10(1974)
MAAFKAN AKU JN, KETENTRAMAN TO
BELAJAR MENYANYI JK, DIA DATANG TO
TERANG BULAN JK, AYAH DAN IBU MR
BUJANGAN MR, KAPAN KAPAN TO
KR. CINCIN TO, NUSANTARA IV TO
UNTUK DIA JN, MANUSIA JN


11. 1974 KOES PLUS VOLUME 11

Volume 11(1974)
NUSANTARA V JK,KOTA LAMA JN,PERCAYALAH MR
APA SALAHKU JN,YA FATIMAH TO,KEMANA TO
KUSENDIRI KS,JANGAN MARAH MR,AKU TERHARU JN,
MARIA JK,MINGGU YANG CERAH JN, HAI KASIHKU TO

12. 1974 KOES PLUS VOLUME 12

Volume 12 (1974)
SENDIRI DAN RAHASIA TO, NUSANTARA VI TO
BAHAGIA DAN DERITA JN,MAWAR BUNGA JK
ALAM SENJA KS,BERTEMU KEMBALI TO,CINTA BUTA TO
MENGERTI SENDIRI JN,AKU KEMBALI TO
KUPU KUPU JK,AKU MILIKMU TO,COBAAN HIDUP MR

Pop Jawa Volume 1(1974)
1 TUL JAENAK JK
2 SAYUR ASEM KS
3 AJA GELA JK
4 TUNGGAK JATI TO
5 ATIKU GELA JN
6 BALI TO
7 AJA NELANGSA JN
8 ELA ELO JK
9 OMAH GUBUK TO
10 ORA BISA TURU JN
11 PAK TANI MR
12 KATRESNAN TO

POP JAWA VOLUME 2(1974)
1 KOLANG KALING MR
2 MEMELAS TEMEN (WONG KUWI) TO
3 EOE JK
4 RONDHO KATUT JN
5 TIL KONTAL KANTIL JN
6 OPO TUMON KS
7 PADHANG BULAN JN
8 NGGODHA ATI JN
9 YO BEN JN
10 JARAN KORE TO
11 SALAH MONGSO JK
12 PAK GURU MR

POP KERONCONG VOLUME 1 (1974)
1 PENYANYI TUA KS
2 ANDAIKAN * TO
3 DEMI KASIH SAYANGNYA JK
4 KUTUNGGU TUNGGU JN
5 HANYA ENGKAU TO
6 AKU MENCARI JN
7 SENJA DEMI SENJA TO
8 LAGU KESAYANGAN MR
9 KUBERNYANYI JN
10 SURAT PERTAMA TO
11 GADIS AYU KS
12 LAMUNANKU JN

POP KERONCONG VOLUME 2(1974)
1 PENYANYI KS
2 KR. PULAU KELAPA TO
2 KU TAK MAU 2 JN
3 GADIS MANIS KS
4 KR. SAPUTANGAN TO
5 KUBERTEMU JN
6 KR. ASLI MR
7 SURABAYA KS.
8 KR. KAU TINGGAL PERGI TO
10 KU TETAP MILIKMU JK
11 KUMENGERTI JN
12 INGIN KEMBALI KS.


13. 1975 KOES PLUS VOLUME 13

Volume 13(1975)
REMAJA ABCD,NUSANTARA VII,SEIRING SEJALAN
PADANG LUAS,TANGIS DI HATIKU,LANGIT TERANG
JANGAN LAGI,MENGAPA HARUS TERJADI
KUINGAT SELALU,KARENA CINTA,KEMBALILAH *
PENYANYI BARU

POP JAWA VOLUME 3(1975)
1 KERIPIK TEMPE
2 SARINAH
3 BIDHO BIDHO DHADHAMU PUTIH
4 AJA DUMEH
5 RAMBATE
6 SURATE WANITA
7 KEBUN MELATI
8 AJA NGECE
9 MBEK MBE
10 RUJAK CINGUR
11 NYAI INDA INDO

14. 1975 KOES PLUS VOLUME 14
SELALU DIHATIKU(1975)
HATIKU HATIMU TO
TERANG BULAN YANG SEDIH JN
AYAH TO
BULAN PENUH BERDURI JK
AKU TAKKAN LUPA TO
JIWA NUSANTARA TO
RAYUAN PALSU KS
CINCIN PERMATA JK
BAGAI MIMPI JN
KESEPIAN TO
NYANYIAN DI SENJA HARI JN
NUSA TO

Another Song For You (album Bahasa Inggris,1975)
MR. TIME TO
THE JUST JOKE JK
MAN OH MAN TO
SHE IS THE ONE JN
NOTHING IS REAL TO
I WILL COME TO YOU TO
ANGEL JN
LET ME FREE KS
MY LADY JK
YES I DO TO

Folk Songs(1976)
KAU MILIKI TO
TERBENAMLAH MATAHARI TO
PEMAIN KECAPI TO
LIKU LIKU LAKI LAKI TO
SUKA DUKA DI BUMI JN
ANGIN BAWALAH AKU JN
KEMANA * JN
JATUH HATI TO
PUTRI BAYANGAN KS
BERDOA DAN BERNYANYI TO

History of Koes Brothers(1976)
KERJAKAN KINI TO
KALA KALA TO
KASIH SAYANG * KS
KEMARI JN
MANIS SEKALI TO
DA SILVA TO
MASA REMAJA JN
KAU DATANG LAGI TO
MENARI TO
ANDAIKAN JN

In Hard Beat Vol2 (1976)
MOBIL TUA MR
TAK MENGERTI JK
DINI TO
MASA BODOH JN
ISSUE JN
DAMAI DI BUMI JK
TANTANGAN TO
LUKA JN
PASTI TO
KAU MILIKKU TO

In Hard Beat Vol1 (1976)
JEMU JK
JANGAN MEMAKSAKAN DIRI TO
O KASIHAN KS
TAMBAH SATU JN
PENIPU JK
HARI MINGGU 2 JK TO
KALAU KUTAHU JN
TANGIS PERI TO
MASA MUDA MR
BUNGAKU JN
SEBEGINI TO

In Concert (1976)
ISI HATIKU * TO
SEKARANG TO
KATA IBU TO
COBAAN JN
RINDU JK
AKU DAN DIA TO
SENYUMANMU JN
KATAKANLAH JK
DUNIA INI TO
KU TAK MAU KS

POP KERONCONG VOLUME 3(1976)
1 KR. BETAWI TO
2 KR. BUNGA MELATI JN
3 KR. KEMANA ENGKAU PERGI KS
4 KR. ASAL JADI MR
5 KR. PENYEMIR SEPATU TO
6 KR. GEMBIRA TO
7 KR. PILIHANMU TO
8 KR. BUNGA BERGUGURAN JN
9 KR. TERANG BULAN TO
10 KR. PILIH MANA KS

POP JAWA MELAYU(1976)
1 MESAKAKE
2 AJA NGONO
3 LINSIR NGULON
4 KAYA NGENE RASANE
5 POKALE ALA
7 KUTUT
8 KEMBANG ENCENG ENCENG
9 HANACARAKA
10 SAK UKURAN
11 DHAWUHE WONG TUWO
12 SURAK SURAK HORE


15. 1978 KOES PLUS 78 BERSAMA LAGI
16. 1978 KOES PLUS 78 MELATI BIRU
17. 1979 KOES PLUS 79 MELEPAS KERINDUAN
18. 1979 KOES PLUS 79 BERJUMPA LAGI
19. 1979 KOES PLUS 79 AKU DAN KEKASIHKU
20. 1980 KOES PLUS 80 JERITAN HATIKU
21. 1981 KOES PLUS 81 SEDERHANA BERSAMAMU
22. 1981 KOES PLUS 81 ASMARA
23. 1983 KOES PLUS 83 DADADADA
24. 1983 KOES PLUS 84 PALAPA
25. 1984 KOES PLUS 84 ANGIN SENJA & GELADAK HITAM
26. 1987 KOES PLUS 87 CINTA DI BATAS KOTA
28. 1973 KOES PLUS NATAL 1973
29. 1974 KOES PLUS QASIDAH VOLUME 1
30. 1974 KOES PLUS NATAL
31. 1974 KOES PLUS THE BEST OF KOES
32. 1974 KOES PLUS POP ANAK-ANAK VOLUME 1
33. 1974 KOES PLUS ANOTHER SONG FOR YOU
34. 1975 KOES PLUS SELALU DIHATIKU
35. 1975 KOES PLUS POP ANAK-ANAK VOLUME 2
36. 1976 KOES PLUS IN CONCERT
37. 1976 KOES PLUS HISTORY OF KOES BROTHERS
38. 1976 KOES PLUS IN HARD BEAT VOLUME 1
39. 1976 KOES PLUS IN HARD BEAT VOLUME 2
40. 1976 KOES PLUS IN FOLK SONG VOLUME 1
41. 1981 KOES PLUS MEDLEY 13 TH KARYA KOES PLUS
42. 1982 KOES PLUS 82 KOPERASI NUSANTARA
43. 1983 KOES PLUS REARRANGE I & II
44. 1984 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 1
45. 1984 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 2
48. 1974 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 1
49. 1974 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 2
50. 1975 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 3
51. 1976 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 4
52. 1978 KOES PLUS 78 POP MELAYU CUBIT CUBITAN
53. 1979 KOES PLUS 79 POP MELAYU
54. 1981 KOES PLUS 81 POP MELAYU OKE BOSS
55. 1981 KOES PLUS MEDLEY DANGDUT 13 TH KARYA KOES PLUS
56. 1985 KOES PLUS 85 GANJA KELABU
57. 1987 KOES PLUS 87 LEMBAH DERITA
58. 1974 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 1
59. 1974 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 2
60. 1975 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 3
61. 1977 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 4
62. 1974 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 1
63. 1974 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 2
64. 1976 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 3
65. 1982 KOES PLUS 81 POP KERONCONG
66. 1976 KOES PLUS POP JAWA MELAYU
67. 1974 KOES PLUS VOLUME 8 (INSTRUMENTAL)
68. 1974 KOES PLUS VOLUME 9 (INSTRUMENTAL)
69. 1974 KOES PLUS VOLUME 10 (INSTRUMENTAL)
70. 1974 KOES PLUS VOLUME 11 (INSTRUMENTAL)
71. 1976 KOES PLUS VOLUME 12 (INSTRUMENTAL)
72. 1974 KOES PLUS THE BEST OF KOES (INSTRUMENTAL)
73. 1974 KOES PLUS POP JAWA VOL 1 (INSTRUMENTAL)
74. 1974 KOES PLUS POP JAWA VOL 2 (INSTRUMENTAL)
75. 1974 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 1 (INSTRUMENTAL)
76. 1975 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 2 (INSTRUMENTAL)
77. 1974 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 1 (INTRUMENTAL)
78. 1984 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM
(INTRUMENTAL)

Daftar Blog Saya

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Swara Gita Musik Indonesia (SGMI) adalah organisasi komersial di bidang event organizer musik, kepromotoran, talent scouting, dan manajemen artis.