Prestasi adalah sebuah perjalanan dan langkah-langkah produktif yang diakui orang lain...

Kamis, 10 Desember 2009

Kabarmu Kini: KOES BERSAUDARA


Pengantar Redaksi:
Banyak tulisan mengenai riwayat Koes Bersaudara dan Koes Plus, tapi tidak banyak yang memaparkan dalam turur cerita Koesjono alis John Koeswoyo, si sulung di keluarga Koeswoyo. Berikut Harian Kompas memaparkan Koes Bersaudar dari versi cerita John Koeswoyo, si pembetot bas pada masa awal Koes Bersaudara. (Nandang Suherlan/ Swara Gita Musik Indonesia).




"MERDEKA!" Itulah yang diserukan lelaki yang sudah tergolong sepuh, Koesdjono (72) alias John Koeswoyo, didampingi sang adik, Nomo Koeswoyo (65), ketika keduanya mewakili Koes Bersaudara menerima penghargaan khusus Life Time Achievement pada acara Penghargaan Musik SCTV di Jakarta, tanggal 21 Mei lalu. Khalayak pun tertawa, melihat salam yang dalam konteks dunia hiburan sekarang terkesan "kuno" itu. Apalagi, sebelumnya John sempat keliru, mengira trofi berbentuk mikrofon yang diterimanya benar-benar mikrofon, sehingga ketika dia diminta bicara, piala itu yang hendak dijadikannya mike. John, Nomo, sebagaimana saudara-saudara yang mereka wakili, yakni Tony Koeswoyo (1936-1987), Yon Koeswoyo (64), dan Yok Koeswoyo (61), memang kini nyaris bisa disebut sebagai "sejarah masa lalu". Dalam lintasan "sejarah masa lalu" dan nama besar mereka waktu itu pula, sebenarnya tercermin sejarah sosial Indonesia.

Tentang Koes Bersaudara sudahdiketahui khalayak pencinta musik di Indonesia, termasuk ketika mereka dipenjarakan pemerintahan Presiden Soekarno karena musik "ngak-ngik-ngok"-nya.Hanya saja, di balik cap "ke-Barat-Barat-an" yang mereka terima ketika pemerintahan "Orde Lama", kalau ditelusuri justru pada Koes Bersaudara kita menemukan semacam "otentisitas" ke-Indonesia-an, termasuk dalam sikap-sikap pribadi dan sosial mereka. Dalam beberapa hal pula, pada kisah kehidupan keluarga ini di masa lalu, tergores cerita-cerita mengenai kesederhanaan hidup, kerja keras banting tulang-semacam ilusi dari sebuah masyarakat yang ingin mencapai kemuliaan hidup lewat kerja. Bukankah justru ini semacam semangat "sosialisme"?

Sementara wujud musik mereka, yang pada zamannya dulu diwarnai pengaruh Everly Brothers, Kalin Twins, The Beatles, sampai The Bee Gees, bukankah itu hanya koinsidensi sejarah, yang bisa terjadi pada anak muda di segala zaman? Dalam hal pandangan hidup, Koes Bersaudara sebaliknya menggemakan pujian mengenai elok dan permainya tanah air kita, seperti lewat Pagi yang Indah, Angin Laut, atau riangnya kehidupan sosial kita lewat Dara Manisku, Bis Sekolah, dan lain-lain.

Menyimak penuturan mereka mengenai riwayat keluarga mereka, dari kakek-nenek mereka, ayah-ibu mereka, masa kanak-kanak sampai mereka semua menjadi orang dewasa dan orang tua, terlihat sebuah lingkungan keluarga dengan nilai-nilai sederhana, memiliki dignity, serta punya kepedulian pada lingkungan sosial. Senin (24/5) lalu, Kompas berbincang-bincang dengan John, Nomo, dan Yok di "kompleks Koes Bersaudara" di bilangan Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Dalam perbincangan selama hampir lima jam itu, John banyak menceritakan asal-usul keluarga mereka. Nomo, yang kelihatannya paling "gendeng" di antara saudara-saudaranya, menimpali dengan kisah-kisah perjuangan hidup mereka. Sedangkan Yok, banyak mengingat perjalanan musikal dari zaman Koes Bersaudara sampai Koes Plus.

Dari Tuban

Baiklah, sebaiknya dijelaskan lagi, bahwa riwayat mereka bisa dikatakan dimulai dari Tuban, sebuah kota pesisir di Jawa Timur. Di kota itu, pasangan Koeswoyo dan Atmini mempunyai sembilan anak, satu di antaranya meninggal dunia ketika masih kecil. Yang tersisa kemudian adalah delapan anak, lima lelaki dan tiga perempuan. Sesuai urutannya, mereka adalah Koesdjono (John), Koesdini, Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), Koesroyo (Yok), Koestami, dan Koesmiani. Kini, dari dinasti Koeswoyo itu sudah ada 33 cucu dan 28 cicit (dari kalangan cucu, barangkali orang masih ingat nama Chicha Koeswoyo dan Sari Yok Koeswoyo dulu).

Menceritakan asal-usul keluarga Koeswoyo, John memaparkan silsilah sampai ke buyut-buyut mereka. Dari situ, dia singgung dari pihak kakeknya sebetulnya ada darah Portugis, sementara dari pihak nenek ada darah Belanda. Dari silsilah yang cukup panjang, kemudian lahirlah Koeswoyo, ayah mereka, yang pada tahun 1940-an adalah seorang pegawai negeri di T=
uban.

"Bapak saya, Koeswoyo, dulunya pegawai di KabupatenTuban. Terus karena ngganteng-nya, dia diliatin Bupati. Terus bapak saya dijodohkan dengan keponakannya, yaitu Atmini, yang kemudian menjadi ibu kami," kata John. "Sesudah zaman Jepang, Bapak menjadi Asisten Wedana di Desa Kerek, terus ke Widang. Waktu Clash II, bapak saya digerebek Belanda. Dia diultimatum, mau kooperatif dengan NICA atau langsung masuk penjara Kalisosok. Karena anaknya masih kecil-kecil, Bapak memilih bekerja sama dengan Belanda. Bapak diserahi tugas di bagian distribusi, tetapi dia malah membantu pejuang dan menyalurkan bantuan pangan. Namun lama-lama ketahuan Belanda dan diancam akan ditembak," lanjutnya.

Kata John, setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia, ayahnya dikucilkan oleh teman-temannya, karena dianggap pernah bersikap kooperatif dengan Belanda. "Dia dipencilkan, sampai badannya kurus karena korban perasaan. Lama-lama Bapak berpikir, lebih baik pindah ke pusat, ke Jakarta."

Ke Jakarta

Keluarga Koeswoyo pun pindah ke Jakarta. Di Jakarta, di Kementerian Dalam Negeri, tempat induk departemen di mana Koeswoyo bekerja, lagi-lagi ia merasa dikucilkan. "Departemen itu dikuasai orang Yogya," ucap John. "Maka Bapak minta pensiun, sebelum pensiunnya mateng. Bapak terus bergabung dengan Bank Timur. Dia dipercaya mengelola onderneming (perkebunan-Red) di Solo. Saya di rumah dengan empat adik. Hanya dia (menunjuk Nomo) berpetualang sendiri ke Surabaya, kerja di pabrik genteng. Yang tiga ini, Ton, Yon, Yok, saya khawatirkan jadi crossboys...," cerita John.

Karena ingin adik-adiknya memiliki "kegiatan positif", John berinisiatif membelikan alat-alat musik bagi adik-adiknya. Waktu itu John sudah bekerja di Biro Yayasan Tehnik, sebelum kemudian pindah ke pembangunan Hotel Indonesia (HI). "Saya belikan alat musik itu untuk pemersatu adik-adik. Saya belikan bas betot, gitar pengiring dua, dan drum. Belinya sama Tony di Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Mengapa di Solo, karena waktu itu untuk urusan alat musik yang paling komplet di Solo. Alat-alat itu dibawa pakai kereta api ke Jakarta. Terus dari stasiun diangkut dengan truk ke HI, saya kan masih kerja di HI...."

John bercerita, bagaimana ayahnya yang bertugas di Solo sempat kaget melihat John dan Tony ke Solo. "Saya dimarahi, arep opo rene? (mau apa kemari?). Saya dibilang mau merusak adik-adik saya. Nanti jadi apa mereka?" kenang John.

Keberatan Koeswoyo anak-anaknya bermain musik adalah khas kecemasan yang dirasakan umumnya orangtua pada masa itu. Sang ayah suka menunjukkan suatu contoh, di mana di Tuban ada tukang biola yang sangat pintar bermain, namanya Pak Senen. Cerita John, "Dia itu matinya ngenes, terlunta-lunta. Dia matinya di Kampung Kawatan, di tempat pelacuran dan tidak ada yang menengok. Melas sekali. Waktu mau dikubur, yang mengantar cuma tukang cangkul penggali kubur."

Ton Si Jenius

Oleh keluarganya, Tony Koeswoyo dipanggil Ton, atau Mas Ton, begitu adik-adiknya memanggil. Boleh dikata, Ton inilah "lokomotif" dan inspirator Koes Bersaudara. Bakat bermusiknya sudah kelihatan sejak dia kecil. Hampir semua saudaranya bisa bercerita, bagaimana Ton kecil ketika di Tuban suka memukuli ember, baskom, dan bejana-bejana lain yang diisi air dengan lidi yang ujungnya dipasangi biji jambu. Di tangan Ton, katanya dari ember, baskom dan lain-lain itu keluar suara yang unik.

"Dasar musik itu kan rhythm. Rasa rhythm dia itu kuat sekali," tutur John. "Saya pernah ikut-ikutan memukul ember, tetapi rasanya kok tidak sebagus Ton. Kalau saya ikut-ikutan mukuli ember pakai lidi yang ujungnya ada jeruk pecelnya, dia nangis. Dia tidak mau diganggu dan saya dianggap pengacau."

Kecintaan Ton pada musik itu terus berlanjut. Ketika tahun 1952 seluruh keluarga diboyong ke Jakarta (mereka tinggal di bilangan Mendawai, Kebayoran Baru), Ton makin menjadi-jadi dengan kegiatan bermusik. John, sang kakak, ingat ketika Ton duduk di bangku SMA, dia membelikan adiknya itu sebuah gitar di Pasar Baru. "Gitar itu masih ada, nanti mau saya lelang, ha-ha-ha...," katanya.

Dikenangnya, bagaimana Ton terus memainkan gitar itu siang- malam. Ton lupa belajar, sampai- sampai katanya Ton menjadi tidak naik kelas dan lulus ujian, yang kalau dihitung sampai tiga kali.

Pada waktu sekolah pun, Ton sudah bermain band. Dia menjadi bintang, karena pintar memainkan melodi. Cewek-cewek mulai menggandrunginya. Dalam perjalanan bermusik di masa remaja itu, mereka juga mulai bermain di berbagai tempat di Jakarta, ditanggap orang untuk memeriahkan pesta ataupun di pesta-pesta perkawinan. Mereka menamakan kelompoknya Kus Brothers (semula memang ditulis dengan "u", bukan "oe"). Anggotanya banyak, termasuk Jan Mintaraga, yang di zaman meledaknya komik Indonesia di tahun 1970-an bolehlah disebut sebagai "ikon komik Indonesia". Katanya, Jan yang menulis pada vandel dari kelompok Kus Brothers, semboyan kelompok ini, yakni "Missa Solemnis" (sebuah karya Beethoven, yang artinya kurang lebih, "sesuatu yang bersumber dari hati akan mendapat tempat di hati juga").

Ketika John membelikan seperangkat alat musik bagi adik-adiknya, dibuat semacam perjanjian dengan Tony, bahwa dia hanya bermain dengan saudara-saudaranya, dengan adik-adiknya. Dari situ, solidlah Koes Bersaudara.

Dihasut oleh pelat

Musik Koes Bersaudara sejak awal memang sangat dipengaruhi oleh penyanyi maupun kelompok-kelompok luar negeri seperti Everly Brothers, The Ventures, Kalin Twins, dan lain-lain. Soalnya, mereka memang mencari referensi bermusik pada piringan-piringan hitam atau pelat. Dengan kata lain, mereka "dihasut" oleh pelat-pelat dari para pemusik Barat.

Mereka masuk studi rekaman pertama kali di Studio Irama, milik Yos Suyoso atau biasa dipanggil Mas Yos (kini sudah almarhum). Tadinya, mereka sebetulnya hanya ke situ untuk memberikan contoh rekaman lagu-lagu mereka. Ternyata, hari itu juga mereka disuruh rekaman. Jadilah album pertama mereka (tahun 1962), yang pada masa itu di setiap piringan hanyaterdapat dua lagu. Lagu mereka adalah Bis Sekolah dan Dara Manisku.

Koes Bersaudara berkembang menjadi "nama besar". "Namun secara komersial kami tak mendapat hasil. Saya pernah kok di rumah sampai enggak punya duit. Saya sampai harus nyopir bemo untuk mendapat duit. Rutenya dari Mayestik-Kebayoran Lama-Santa," cerita Nomo Koeswoyo.

Nomo inilah yang dijuluki keluarganya sebagai "paling pintar berbisnis" selain "tukang berkelahi". Menceritakan tinggal sendiri di Jakarta bersama kakak dan adik- adiknya, Nomo berujar, "Kami masih mendapat kiriman uang dari Bapak, tetapi belum seminggu uang sudah habis. Suatu hari saya beli singkong sepikul. Kalau lapar mereka nggodok singkong. Eh, belum tiga hari singkong sudah busuk semua, hua-ha-ha...."

Di Penjara Glodok

Episode ini, sudah banyak diungkap media massa. Tanggal 29 Juni 1965 personel Koes Bersaudara ditangkap dan ditahan di Penjara Glodok, yang kini dikenal sebagai kompleks pertokoan itu. Alasannya, mereka dijebloskan ke penjara karena menggelar musik yang "ke-Barat-Barat-an", yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan politik pada masa itu. Nomo sempat menuturkan, bagaimana kisah hidup mereka di balik terali besi selama tiga bulan. Ada tahanan yang iba terhadap mereka, namanya Oom Ging. Si oom ini iba melihat jatah makanan anak-anak ini. "Oom Ging lalu memberi sayuran yang ditanam sendiri. Belakangan saya tahu, tanaman itu diberi pupuk dari kotoran Oom Ging sendiri. Waduh...," cerita Nomo sambil tertawa.

Yang tidak banyak diketahui orang, seperti dituturkan Yok Koeswoyo, sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagaibagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.

"Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh beliau-beliau, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 November, meletus G30S," cerita Yok.

Jadi masuk penjara itu hanya sebuah jalan menuju fase berikutnya?

"Ya, jadi dibentuk opini seolah-olah kami tidak suka pada Soekarno," jawab Yok.

Waktu masuk penjara ada perasaan menyesal atau tidak?

"Tidak, kita menyadari itu kok."

Ini tak pernah terungkap ya?

"Ya, selama ini kita selalu rapet. Kami ikut menjaga rahasia negara. Di KOTI itu kami masuk D3, kami bisa dibangunkan, tapi bisa juga ditidurkan."

Hal sama, katanya dilakukan kelompok ini di paruh pertama tahun 1970-an (sebelum Timor Timur bergabung menjadi wilayah Indonesia, atau ada pula yang menyebut sebagai proses aneksasi), untuk Timor Timur. Dalam rangka "proyek politik" ini, katanya lahir lagu semacam Diana (lagu itu bercerita mengenai putri petani, bernama Diana. Perhatikan, Diana adalah nama yang tidak umum untuk petani di Jawa.) Ingat juga lagu Da Silva.

Anda masuk ke Timor Timur?

"Kami berangkat ke sana. Kami bikin pertunjukan di =
gedung. Waktu menuju Hotel Turismo, ada orang Timur yang mendekat dan mengg=
edor-gedor mobil kami sambil berteriak-teriak, 'Viva Presidente Soeharto!' =
Waktu kami pulang dari Timor Timur kami disambut sama Adam Malik di Tanah A=
bang," ucap Yok.

Seru ya....

"Setelah mengalami itu semua, nasionalisme kami tam=
bah tebal. Itu makanya ada lagu Nusantara I, II, dan seterusnya."

Tetap sederhana

Waktu terus berlalu. Nama besar Koes Bersaudara ternyata tak terlalu berkolerasi dengan sukses ekonomi mereka. Penghasilan mulai masuk katanya sejak kelompok ini berubah nama menjadi Koes Plus, di akhir tahun 1960-an. Awal tahun 1970-an, nama Koes Plus berkibar-kibar. Penabuh drumnya adalah Murry, menggantikan Nomo. Nomo diganti, katanya karena sikap keras Ton, mau bermusik atau melakukan kegiatan lain. Saat itu, Nomo menyatakan tak bisa sepenuhnya bermain musik, karena dia sudah berkeluarga, punya anak, dan musik saat itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan gantungan hidup.

Kini, Koes Plus tetap ada, dengan hanya Yon dari keluarga ini yang masih aktif di panggung. Para putra lelaki Koeswoyo yang lain, seperti John, Nomo, dan Yok, tinggal di satu kompleks, dengan gaya hidup sederhana mereka, dengan dignity mereka, sebagai sosok-sosok berkarakter kuat, yang pernah memberi warna pada sejarah sosial kita.

Pewawancara:
Frans Sartono
Efix Mulyadi
Bre Redana

Copyright =A9 2002 Harian KOMPAS
Sumber: Harian Kompas, Jakarta,30 Mei 2004.

Berita Musik Indonesia, 16 Maret 2008


Kabar dari Shinta FM & JNBKC

SEJAK Februari 2008, Radio Shinta 97.2 FM Bandung ngadain acara Koes Plusan, namanya “DHEG DHEG PLAS”, tiap hari Minggu, jam 3 s.d. 6 pm, ya sore… Hostnya tak lain tak bukan Romeltea (edited! Dimuat di milis Koes Plus Indonesia).

Kabarmu Kini: YOK KOESWOYO

Pengantar Redaksi: Setelah tak aktif di Koes Plus, Yok Koeswoyo tak diam. Di Pandeglang, tempatnya yang sering ia tempati kini (2009), pembetot bas tersebut masih berkarya.... Berikut berita yang kami kutip dari http://jnbkc.wordpress.com/2009/06/29 (Nandang Suherlan/Swara Gita Musik Indonesia)

Yok Koeswojo Luncurkan CD Album ‘Yok Koestik’

Yok_KoestikADA yang istimewa pada siaran Dheg-Dheg Plas (Special Program Lagu-Lagu Koes Plus & Koes Bersaudara) di Radio Shinta 97.2 FM Bandung, Ahad (28/6), jam 3-6 pm. Sekitar sejam sebelum siaran, Ketua Jiwa Nusantara Bandung Koes Community (JNBK) Wawan “Abah” Ruswan meng-SMS saya. Isinya, “Kang, nanti ada tamu dari Jakarta, Agus Giri, temen dekat Mas Yok, mau main ke Radio Shinta…”

Tentu, saya senang karena sang tamu bisa saya ajak nemenin saya siaran. Apalagi, sebuah kejutan, ternyata Bung Agus membawa “sesuatu”: CD album solo Yok Koeswojo! Ia menyebutnya “mini album” karena hanya berisi empat lagu. Ya, benar, Yok Koeswojo, personil Koes Bersaudara/Koes Plus ini, meluncurkan album solo bertajuk “Yok Koestik”.

CD Album ini dijual terbatas, hanya di kalangan komunitas penggemar dan pelestari lagu-lagu Koes Plus. Harganya Rp 25.000. Empat lagu di dalamnya “easy listening”, sederhana, tidak meninggalkan “khas” lagu-lagu Koes Plus, masing-masing berjudul “Tragedi”, “Pesan Perdamaian”, “Kasih Sayang”, dan “Bila Tiba Saatnya”. Menurut Mas Agus, semua lagu berkaitan satu sama lain. “Setelah menuturkan tragedi, seperti bom Bali, Tsunami dan Lapindo, Mas Yok menebar pesan perdamaian, lalu indahnya kasih sayang, ditutup dengan bila saatnya tiba,” katanya.

Di telinga saya, selain masih berkarakter khas lagu-lagu Koes Plus, keempat lagu di album Yok Koestik ini juga bernuansa Balada, mirip lagu-lagu Iwan Fals, Iwan Abdurrahman, dan Franky S. Kesan saya, Yok memang membawa pesan “serius” lewat albumnya ini. Sebagai contoh, “Mengapa cobaan ini harus terjadi di Nusantara…” (Tragedi); “Tanamkanlah kasih di hati. Biarkanlah tumbuh bersemi…” (Pesan Perdamaian); “Kasih sayang selalu diucapkan… Nyatanya di bibir saja” (Kasing Sayang); “Terdengar suara sayup-sayup di telingaku. Suara hati nurani. Yang tak mungkin salah lagi…” (Bila Tiba Saatnya). Good Luck, Mas Yok…! Salam Jiwa Nusantara, Merdeka!!! (www.romeltea.com).

Wawancara Majalah Aktuil: TONNY KOESWOYO

Wawancara Majalah Aktuil dengan Tonny Koeswoyo:


SUMBER: Majalah TOP No. 26
KOES PLUS memulai kisah perjalanannya yang panjang di dunia musik dengan band Teen Ager’s Voice yang dibentuk Tonny Koeswoyo sekitar tahun 1952.Setelah bertukar nama menjadi Irama Remaja dengan anggotanya Sophan Sophian ,band ini terpaksa dikubur untuk kemudian Koes & Bros. Dalam grup terbaru anak2 pak Koeswoyo itu terselip pula nama Jan Mintaraga yang sekarang dikenal sebagai pelukis komik. Baca Kelanjutannya..

Jumat, 08 Mei 2009

BINCANG-BINCANG DENGAN TONNY KOESWOYO

Bincangbincang ini meliputi aspek dan prospek dunia musik Indonesia,falsafah dan tentang KOES PLUS sendiri. Dari bincang2 ini kita dapat menilai sampai dimana intelektualisme Tonny serta Koes Plus yang berusaha membina dan mengembangkan blantika musik Indonesia:

Bagaimana perkembangan group band dan vocal group di Indonesia menurut kacamata Koes Plus?

Tonny: Saya kira tidak susah untuk mengatakan,tetapi pada garis besarnya group band di Indonesia ini kalau kita tinjau dari segi vocal sesungguhnya ada pertumbuhan,tetapi dikatakan sampai dimana perkembangannya saya kira kita sedang mulai. Kalau kita pikir group yang bagus dengan teknik yang baik seperti Bee Gees atau misalnya The Beach Boy’s,yang mengutamakan vocal disamping musiknya. Saya kira bukan suatu vocal group apabila penyanyinya memainkan alat musik.

Saya dengar Tonny Koeswoyo pernah punya gagasan untuk membentuk suatu Union yang sedikitnya terdiri dari lima group di Indonesia, seperti yang dikatakan Benny Panjaitan dari Panbers, bagaimana realisasi selanjutnya?

Tonny: Memang ini suatu kemauan dari kelompok-kelompok musik sekarang,tapi rupa-rupanya saya kira kita masih harus memilih sampai dimana dedikasi yang dipunyai untuk musik. Sebab saya rasakan adanya sifat yang angin-anginan ,sehingga kurang bisa dipertanggungjawabkan. Maksud saya yang bisa diharapkan untuk memikirkan seratus persen dalam hal ini. Disamping itu juga kita mempunyai satu perkumpulan band sendiri. UNION semacam itu perlu sih perlu, tapi kita masih harus dapat membaca situasinya lebih dalam lagi, terutama kita tinjau dari segi keperluannya. Seluruhnya kita himpun lantas diharapkan ada proteksi yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan suatu pengaruh, dimanan group2 musik tumbuh seperti yang kita harapkan.


MAPAN

Bila ada sementara pendapat dalam masyarakat yang menyebutkan musik KOES PLUS telah MAPAN, bagaimana reaksi dari TONNY sendiri ?

Tonny : Saya sendiri kalau mendengar pendapat seperti itu agak takut sedikit. Soalnya begini : Group musik yang mulai berdiri biasanya antusias sekali semangatnya. Kita pernah mengalami hal seperti itu, sehingga pada suatu waktu timbul satu pemikiran dari masing2 anggota yang bagaimanapun juga punya perbedaan2 pendapat satu dengan lainya. Kadang2 timbul satu pemikiran dimana masing2 seakan-akan menganggap dirinya itu menentukan dalam kelompok musik. Ini rata2 dialami pada kelompok-kelompok musik yang menjelang puber. Pada waktu demikian ini si pemimpin harus pandai-pandai mengerti keadaan bagaimana caranya mengatur segi2 psikologis demikian rupa sehingga bisa dengan tenang melalui masa puber itu. Kalau masa itu tidak bisa dilalui kita biasanya mengalami hal2 negatif, misalnya seperti perpecahan, atau gampang tersinggung sampai dia punyaespritde corps”nya hilang lantas mati………..Jadi apabila keanggotaan dalam sebuah group dalam arti katakarier “,sedikit banyaknya sudah bergabung lama, maka ia telah mendapat kedewasaan.

Banyak orang berpendapat bahwa group musik bersaudara kandung semacam Koes meskipun ada embel2 “Plus” Murry, atau juga Panbers, susah sekali jatuhnya. Benarkah demikian ?

Tonny: Saya akan memberikan jawaban dari dua macam analisa. Kalau dari segi hubungan darah memang ada semacam instink bahwa merekan tidak akan gampang berantakan. Tapi misalnya dari segi lain katakanlah kedisiplinan memang agak kurang, sehingga kalau tidak ada kesadaran yang matang, yah agak susah juga dihindarkannya. Ini betul-betul pengalaman dan baru kali ini diomongkan. Problema seperti ini dapat dipecahkan yaitu apabila ada salah satu yang penuh pengertian mendalam , dan juga mengerti bagaimana memberi pengertian pada mereka. Sesungguhnya kita ini memegang stir dalam satu karier dimana kita semua turut menentukan. Ambil saja contoh Bee Gees, merekapun toh pernah pecah juga. Kita harapkan dengan unsur pengertian ini bisa lebih baik untuk kepentingan kelompok musik bersaudara. Unsur kekeluargaan terlalu mendalam sehingga misalnya disiplin latihan mengandung konsekuensi yang berat. Kebiasaan seperti ini bisa sedikit demi sedikit dipecahkan dengan menanamkan dalam2 tujuan karier.

Bagaimana sejarahnya dan latar belakang sampai Koes Bersaudara bisa rubah menjadi Koes Plus, dimana Nomo dan John tidak ada lagi ?

Tonny: Pertanyaan ini persis jawabanya sebagai sambungan dari pertanyaan yang belakangan tadi. Kejadian yang ditanyakan itu merupakan pemecahan dari kelompok musikus bersaudara yang melewati masa pubernya. Dan masa puber itu kita lewati dengan cara plebisit, sehingga drummer kita yang lama jadi official dari Koes Plus. Soal John, memang dulu bassist kami, tapi pada tahap rekaman untuk Irama. Dan sekarang dia sudah bekerja begitu selesai rekaman, karena dia punya kemampuan dibidang Teknik. John jugalah yang menolong dibidang materi berdirinya Koes Plus, disamping memberikan bantuan moril dalam membantu rekaman. Kalau boleh saya katakan bahwa Koes Plus dengan selamat telah melewati masa puber.

Dulu anda pernah ,mengatakann bahwa Koes dipengaruhi sedikit musik Jawa seperti yang terdapat dalam lagu DERITA, berupa gamelan Anoman Melempar Sampur. Bagaimana dalam L.P. berikutnya adakah unsur musik jawanya?

Tonny : Untuk lagu Derita, sebenarnya bukan mengambil unsur jawa sepenuhnya, walaupun dalam teknik vocalnya memang itu kita ambil dari ilmunya nenek moyang kita. Belakangan ini lagu Mari-Mari kita ambil dari irama Topeng Jakarta. Dan kalau perlu sebagai tambahanya kita akan ambil banyak sekali termasuk unsur2 gamelan Bali yang idenya sudah ada tinggal menentukan timing yang praktis baik.

ROLLIES

Sedikit Menyimpang, saya ingin menanyakan bagaimana pendapat Tonny tentang L.P.2 Rollies yang nampaknya kurang laku dipasaran itu?

Tonny: Waduh... ini pertanyaan gawat juga, tapi tak apalah akan saya jawab seperlunya. Menurut saya musik Rollies baik sekali dan saya yakin kalau ditanyakan pada rekan2 Rollies tentang musik mereka sendiri tentu akan menjawab bahwa: Karya mereka merupakan suatu refleksi jiwa yang dilahirkan dalam bentuk musik yang maksimal, seperti yang dikehendaki hati nurani mereka yang paling dalam. Disamping itu juga kita harus menyadari bahwa seseorang tidak begitu saja pandai membaca atau menulis, begitu pula dengan musik, kalau kita tidak bisa membedakan bagaimana menulis lagu lantas disertai dengan akal tentu saja tidak akan bisa. Bahkan kalau kita pikir katakanlah musik yang paling primitiv seperti komedi kucing, anjing ( artis jalanan ) memang sifatnya primitiv tapi nilainya tidak, dan saya kira tergantung dari mana kita menilai, bagaimana kondisi dan situasi waktu kita menilai. Misalnya lagu klasik yang berat dari Bach, atau juga musik sekarang dari John Sebastian dan lainya, musik seperti itu punya nilai konsentrasi yang sangat tinggi, dan coba sekarang mainkan di satu Nite-Club yang banyak orang2 minum Whisky sambil peluk-pelukan,tentu saja akan jadi tidak karuan dan lantas orang-orang pada bubar. Ada pula sebuah anekdot yang pernah mengatkan perbuatan seperti itu sebagai tidak karuan, tapi siapa tahu tingkah seperti itu untuk nyentrik. Dalam musik ada pula yang ngaku aliran progresive, biar tidak terlalu malu, ada yang begitu itu.

Bagaimanan kisahnya sampai KOES PLUS berlompatan dari Dimita ke Remaco dalam album kedelapan ini ?

Tonny : sebetulnya bukan soal komersiil dan sebagainnya,tapi kita hanya ingin menyajikan kasnya kita di piringan hitam dengan suara yang lebih bagus seperti yang diinginkan masyarakat.Jadi sebenarnya move kita ini tidak lain dari pada mencerminkan kehendak penggemar2 kita. Kita ingin menghasilkan sound yang lebih baik. Kalau soal honor itu saya kira diseimbangkan dengan kemampuan kita. Kalau kemampuan kita besar barang tentu kita akan mendapatkan penghargaan yang agak lumayan. Perusahaan itu tidak akan begitu saja meng-iyakan apa2 atau begini2 yang dikatakan kita, tapi dia juga memerlukan perhatian di bidang komersiilnya. Untuk group musik lain saya harapkan agar bisa menumbuhkan kreasi2 yang something new, tapi tidak bisa lepas dari selera. Memang ada satu mpendapat yang mengatakan bahwabukan musik yang harus mengikuti masyarakat tapi justru masyarakat yang harus mengikuti musik” . Tapi sesungguhnya dua2nya berlaku timbal balik. Yang penting musikus melahirkan karya2nya yang bisa dinilai oleh masyarakat.



PASARAN LP

Sampai saat ini lagu2 yang dibuat di Indonesia belum ada yang bisa masuk diluar,yah paling sedikit Top-Ten di Singapura. Apakah hal ini dikarenakan karya-karya musikus kita kurang kena atau memang label P.H. di Indonesia masih jauh dibawah hasil rekaman di luar negeri ?

Tonny : Setiap jenis blantika (business), apa itu film, bidang show,kesenian, pariwisata dsb,jangan dikira setiap company gampang begitu saja ingin menancapkan kuku untuk pemasaran seluas2nya disetiap tempat. Kita lihat bagaimana Policy dari Polidor,untuk menguasai pasaran dunia, bagaimana pula perjuangan policy dari E.M.I serta policy dari company2 lainya. Di Indonesia kita masih kurang teratur untuk berpikir seperti diluar negeri dalam berjuang untuk marketing. Apa sebabnya perusahaan ANU begitu populer, tapi perusahaan sejenis yang lain kurang populer, dalam P.h. juga demikian. Makanya sebelum kita bicarakan soal ini kita harus mengetahui bagaimana sesungguhnya blantika musik itu.

FILM

Saya dengar Safari Sinar Sakti Film Corp akan membuat film tentang kisah perjuangan KOES BERSAUDARA. Kapan realisasinya?

Tonny: Soal itu masih dalam taraf pengolahan dan bagaimana ketentuannya nanti kita tunggu saja.Persiapan2 memang sudah ada, kita hanya menunggu skenarionya, apakah wajar bisa diterima atau tidak oleh kita, baru kita menentukan apakah kita mau ikut jadi pemain didalamnya. Yang kita harapkan film itu akan mempunyai nilai historis . Di dalam film itu pula ingin kita tekankan bahwa sukses seseorang bukanlah monopoli suatu keluarga kayaraya. Bukan. Kita mulai dari modal dengkul namun kita punya brain atau ide2 yang kita kerjakan untuk masyarakat, maka Tuhan akan memberikan jalan tentuNya.


NUSANTARA- 2

Apa argumenya sehingga lagu Nusantara kemudian dilanjutkan dengan Nusantara II ?

Tonny : Dasarnya memang bukan mau monopoli lagu Nusantara itu, tapi ada terpetik didalam hati untuk membuat lagu pujian buat Tanah Air, dan rasa syukur pada Tuhan YME. Lagu syukuran ini akan dapat didengar oleh semua bangsa Indonesia, bahwa Tanah Air yang dikaruniakan kepada kita adalah yang subur,romantis, indah, tak ada kecewanya. Lautan yang diungkapkan sebagai KOLAM SUSU oleh Yok dala volume VIII adalah lautan yang kekayaannya berlimpah2, sampai perusahaan penangkap ikan Jepang tidak mau mencari Ikan dilautannya sendiri, tapi justru menangkapnya dilautan Indonesia. Hal itu dikarenakan mereka melihat bahwa Indonesia mempunyai kolam susu. Pengertian lain sebagai tema pembangunan bahwa kita semua harus mempunyai tanggungjawab. Jadi yang penting dedikasi KOES PLUS sejalan dengan pendapat dimana sebenarnya amal perbuatan manusia yang paling baik bukan sekedar sedekah, tapi selama kita hidup harus mempunyai karya2 yang ada manfaatnya untuk dinikmati masyarakat.


THEMA LP-8

Thema apa saja yang dimasukan dalam LP 8 dan irama apa saja yang mencakup disana ?

Tonny: Volume 8 ini, pada bait2 yang biasa dan pada koornya kita ambil beat biasa saja. Kemudian ada sebuah blues biasa lantas ada lagi lagu yang agak cepat ritmiknya yang ditulis Yon. Selebihnya kita kembali ke bidang lama. Dalam vol. 8 ini belum bisa diketengahkan beat2 baru, namun nanti di vol.9 kita akan kemukakan beat2 dengan unsur dialek daerah.


SOLO SINGER

Bagaimana pendapat Tonny tentang perkembangan penyanyi solo sekarang ini ?

Tonny : Saya kira ada dua unsur yang harus ditelaah. Unsur pertama dari diri si penyanyi dan yang kedua adalah datang dari group yang mengiringinya. Kadang2 komposisi lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi tidak in on line dengan warna suara (timbre) si penyanyi, sehingga kewajaran dan kemantapannya kurang didapat oleh pendengar. Kalau Cuma untuk menyanyi begitu saja, ini berbahaya sekali karena akan menurunkan kwalitas atau standar di masyarakat. Ambil contoh seorang penyanyi keroncong akan susah untuk lari ke Jazz, atau misalnya ke Pop masih ada bahan sedikit. Pokoknya yang penting harus natural wajar. Kita tidak bisa bicara lebih jauh karena disamping itu ada juga pertimbangan komersilnya. Penyanyi yang baik diharapkan bisa menemukan satu kompunis atau penulis lagu dimana yang punya pengertian bagaimana membuat lagu yang sesuai untuk si penyanyi. Baru bisa maju.

SUMBER: Kliping majalah AKTUIL
Ditulis sesuia ASLINYA

Daftar Blog Saya

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Swara Gita Musik Indonesia (SGMI) adalah organisasi komersial di bidang event organizer musik, kepromotoran, talent scouting, dan manajemen artis.